suplemenGKI.com

Yesaya 63:7-9.

 

Mengingat Kasih Setia Tuhan Adalah Dasar Doa Yang Benar

 

Pengantar:
            Keadaan bangsa Israel pasca-pembuangan mengalami krisis iman. Hal itu terlihat dari nada bacaan Yesaya 63 adalah termasuk dalam bagian ratapan umat kepada Tuhan. Umat meratap terhadap penderitaan yang mereka terima, seolah Tuhan tidak berbelaskasihan, seolah Tuhan membiarkan mereka tersesat, seolah Tuhan membiarkan orang fasik menghina umat-Nya. Seolah-olah mereka masih berada dalam pembuangan, padahal sebenarnya mereka telah kembali dari pembuangan. Itulah yang membuat Sang Nabi berdoa dengan suatu doa yang penuh pengakuan dan permohonan dengan mengingat kasih setia Tuhan.

Pemahaman:

  1. Apa yang hendak disampaikan oleh Sang Nabi dalam ungkapan-ungkapannya di ayat. 7?
  2. Apa yang hendak disampaikan oleh Sang Nabi  yang seolah-olah mengingatkan Tuhan akan janjiNya di ayat 8-9?
  3. Pelajaran apa yang bisa kita tangkap dari doa Sang Nabi itu?

Bagian ini merupakan sebuah doa yang didasarkan pada kasih setia Tuhan yang telah diperlihatkan dalam sejarah penyelamatan-Nya kepada umat Israel. Ayat 7, adalah suatu pengakuan akan kasih setia Allah yang begitu besar kepada umat Israel. Kasih setia Tuhan itu diberikan kepada umat Israel bukan karena umat Israel pantas menerimanya, tetapi sungguh-sungguh karena anugerah Allah kepada umat-Nya. Kalimat “sesuai dengan segala yang dilakukan-Nya….sesuai dengan kasih sayang-Nya….sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar” suatu penegasan bahwa kasih setia Tuhan adalah benar-benar independen dan samasekali tidak dipengaruhi oleh keadaan umat Israel.
Ayat 8-9, penulis mengutif  pernyataan Allah, bahwa Allah berkenan menjadikan Israel sebagai umat-Nya dan merindukan agar Israel menjadi umat yang taat, setia dan tidak berpaling dari pada-Nya. Dengan kata lain Allah menghendaki agar  kasih sayang yang telah diberikan kepada umat Israel itu mendapat respon yang menunjukan Israel menyadari betul betapa Allah itu mengasihi umat-Nya. Sebagai konsekuensinya umat Israel sudah selayaknya menyambut kasih sayang Allah itu dengan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.  Sebuah pelajaran: Allah telah berkenan menjadikan kita umat-Nya karena kasih sayang-Nya, maka selayaknya kita meresponinya dengan ketaatan, kesetiaan dan kasih kita kepada-Nya.

Refleksi:
Tidak jarang kita tidak bisa merasakan kasih setia Tuhan dalam hidup kita, hal itu disebabkan karena kita belum meresponi kasih setia Tuhan itu dengan menjaga ketaatan, kesetiaan dan kasih kita kepada-Nya. Sampai kapan kita terus berada dalam kondisi demikian?

Tekadku:
Tuhan, aku mengakui bahwa aku belum sungguh-2 berpasrah kepada-Mu, dan masih mengandalkan keakuan serta kebisaanku sehingga aku belum bisa merasakan kasih setia-Mu dalam hidupku.  Aku bertekad untuk lepas dari kondisi tersebut ya Tuhan, tolonglah aku.

Tindakanku:
Aku ingin menjaga ketaatan, kesetiaan dan kasihku kepada Tuhan, agar aku dapat merasakan kasih sayang-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*