suplemenGKI.com

KASIH YANG TETAP

Yeremia 31:1-6

 

PENGANTAR
Adakalanya suatu kesalahan yang terjadi bukan sekadar menyangkut materi/isi pembicaraan, tetapi juga menyangkut relasi dan kepercayaan yang terciderai.   Itu sebabnya memulihkan dan membangun relasi bukan perkara yang mudah. Namun melalui bacaan ini, kita belajar  bagaimana Allah melakukannya dalam relasi dengan manusia. 

PEMAHAMAN

  • Ayat 1: Apa status hubungan Allah dengan Israel?
  • Ayat 2: Apa yang Allah katakan tentang Israel?
  • Ayat 3-4: Bagaimana Allah menunjukkan bukti kasih-Nya?
  • Ayat 5-6: Apa yang Allah rencanakan bagi Israel?
  • Apakah kita masih bisa menemukan kasih Allah dalam hidup sehari-hari?  Apakah kita bersedia membagikan kasih Allah yang kita alami kepada orang-orang sekitar yang kita jumpai?

Keadaan bangsa yang tidak berubah:  dibuang, dijajah dan menderita;   seolah menegaskan bahwa kenyataan inilah yang harus diterima Israel. Apa arti berharap?  Apa arti menunggu hadirnya pembebas bila keadaan masih juga sama?  Tidak mudah juga mempercayai janji-janji yang seolah tidak tahu dengan pasti kapan realisasinya.  Di sinilah tugas berat Yeremia untuk terus menyuarakan kasih dan rencana Allah yang tidak berubah atas umat-Nya, “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (ayat 3b).  Frasa “kasih yang kekal” menegaskan keputusan Allah yang tidak bisa diganggu gugat untuk mengasihi Israel.  Kasih yang tetap meski Israel berulang kali berubah setia.  Kasih yang tetap meski Israel meragukan kasih-Nya. Untuk semua pengalaman itu, Allah tetap mengasihi Israel.

Yang menarik, Allah yang kasih-Nya tidak berubah “dari jauh, TUHAN menampakkan diri kepadanya”.  Artinya, kasih Allah dinyatakan melalui penyertaan-Nya yang sempurna bagi Israel.  Allah tidak pernah meninggalkan meski Israel dalam pembuangan.  Bahkan Allah tetap memandang Israel sebagai “kebun anggurnya” (ayat 5a) yang hendak dibangun kembali supaya kembali menjadi berkat bagi banyak orang (ayat 5b).  Dibalik kasih yang tidak berubah itu, Allah juga tetap memanggil Israel “naik ke Sion” (ayat 6), gunung tempat Allah mengikat perjanjian dengan mereka. Allah ingin terus membangun dan memperbaiki kehidupan spiritualitas umat-Nya, dimulai dari ibadah di Sion.

Kasih Allah yang sedemikian juga berlaku bagi orang-orang percaya zaman ini.  Allah tidak mungkin memungkiri diri-Nya. Allah yang berjanji adalah Allah yang tidak mungkin berubah. Kasih dan anugerah-Nya tetap bagi umat-Nya.  Keadaan sulit apapun yang pernah, sedang dan akan terjadi tidak akan pernah mampu memisahkan kasih Allah dari kehidupan anak-anak-Nya.  Kiranya kebenaran ini membawa umat kembali kepada Allah dan mengandalkan-Nya.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Bila Allah sedemikian besar mengasihi dengan kasih-Nya yang tidak pernah berubah; masihkah kita meragukan kasih Allah?  Tidakkah kasih Allah yang tetap itu mendorong kita untuk berharap hanya kepada-Nya? 

TEKADKU
Tuhan, terimakasih untuk kasih-Mu yang tetap dan tidak berubah sepanjang masa.  Ajar kami tidak gampang menuduh dan menyalahkan Engkau.  Pimpin kami belajar merenungkan kasih dan perbuatan-Mu di setiap peristiwa hidupku. 

TINDAKANKU
Hari ini apapun yang kuhadapi, aku harus belajar menemukan, merenungkan dan mau membagikan pengalaman kasih Allah kepada orang lain.  Tidak hanya berfokus pada persoalan diri sendiri.  Sebagai bukti percaya ada kasih Allah yang tetap di sepanjang kehidupan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*