suplemenGKI.com

Senin, 22 Maret 2021

21/03/2021

YESAYA 50:4-9

MELAYANI DENGAN SETIA

PENGANTAR
Kita akan bersemangat dan bersukacita jika pelayanan yang kita lakukan lancar dan sukses. Namun, bagaimana jika hal yang terjadi adalah sebaliknya: orang-orang yang kita layani justru menolak dan memusuhi kita? Dalam situasi seperti itu, bagaimana kita dapat tetap setia mengerjakan pelayanan kita?

PEMAHAMAN
Yesaya melayani sebagai nabi di Kerajaan Yehuda (Kerajaan Selatan) sekitar tahun 739–681 SM. Pada waktu itu Kerajaan Asyur adalah kekuatan yang dominan di Timur Tengah. Mereka telah menaklukkan kota Kerajaan Israel (Kerajaan Utara) pada tahun 721 SM, dan Kerajaan Yehuda akan menjadi sasaran berikutnya. Namun, persoalan yang lebih serius bagi penduduk Yehuda adalah kondisi kerohanian mereka (lihat Yes.50:1-3).

  • Ay. 4-5.   Apa yang dimaksudkan Yesaya dengan lidah dan telinga seorang murid? Mengapa hal itu penting dalam pelayanannya?
  • Ay. 6.       Penderitaan apa saja yang akan dihadapi oleh Yesaya? Bagaimana Yesaya menghadapinya?
  • Ay. 7-9.  Dari manakah Yesaya mendapatkan kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam pelayanannya?

Yesaya memahami bahwa pelayanan yang harus dikerjakannya tidaklah mudah.  Ia harus membangkitkan semangat penduduk Kerajaan Yehuda yang “letih lesu” (artinya, merasa lelah dan tidak berdaya menghadapi masalah yang besar dan berkepanjangan). Untuk memberitakan firman Tuhan kepada mereka, Yesaya membutuhkan lidah dan telinga seorang murid (ay. 4). Sebelum mengajar orang lain, ia sendiri harus taat terhadap Tuhan yang mengutusnya (ay. 5, “tidak memberontak dan tidak berpaling ke belakang”).

Selain berkomitmen untuk taat kepada Tuhan, Yesaya juga menyatakan kerelaannya untuk menanggung penderitaan, baik secara fisik maupun psikis (ay. 6). Yesaya siap menerima penganiayaan dan penghinaan dari orang-orang yang dilayaninya. Ia akan menjalani semua itu bukan dengan terpaksa, melainkan dengan kerelaannya.

Tentu saja, tidak mudah bersikap seperti Yesaya. Namun, ketika Yesaya bersikap taat dan rela menderita, maka kuasa Allah yang mengutusnya itu akan nyata di dalam kehidupan dan pelayanan seorang hamba (ay. 7-9). Ketaatan dan kerelaan menderita ini juga dimiliki oleh Yesus Kristus ketika Ia lahir di dunia dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kristus telah melakukannya semua itu bagi kita.  Apa yang kita lakukan bagi-Nya dan bagi sesama kita?

REFLEKSI
Untuk melayani sebagai hamba-Nya, kita perlu taat kepada Tuhan yang mengutus kita, rela menderita, dan senantiasa bersandar pada kuasa-Nya.

TEKADKU
Ya Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu yang setia. Karuniakanlah ketaatan kepadaku dan sertailah aku pada waktu aku harus menghadapi penderitaan.

TINDAKANKU
Dalam tiga hari ke depan, aku akan mendoakan seorang hamba Tuhan yang aku kenal, yang mengalami banyak tantangan dan kesulitan dalam pelayanannya, agar ia tetap setia melayani Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*