suplemenGKI.com

BERTAHAN SETIA PADA SUARA TUHAN

Ulangan 18 : 15 – 20

 

Pengantar
Ketika ada suatu kekuatan yang menarik, maka banyak orang ingin mengikutinya. Demikian juga yang kita rasakan dengan kekuatan informasi yang berkembang dan beredar secara luas. Kekuatan informasi ini bisa muncul dari siapa saja dan dari mana saja. Namun informasi yang kuat (berdaya tarik) ini tidak selalu bersumber dari kebenaran. Lalu apakah kita ikut saja pada segala informasi menarik yang beredar di sekitar kita, padahal kita tahu bahwa dampak yang ditimbulkan dari sebuah informasi yang tidak benar sangat merusak lingkungan penerima informasi tersebut. Maka pada hari ini, kita diajak untuk melihat kembali akan sumber informasi yang berisi kebenaran sejati, yaitu Suara TUHAN sebagaimana yang kita baca dalam kitab Ulangan 18 : 15 – 20, juga pada beberapa ayat sebelum dan sesudahnya. 

Pemahaman

Ayat  15 – 17       :  Mengapa TUHAN mengatakan: Apa yang dikatakan mereka itu baik?

Ayat  18 – 20       :  Bagaimana peran dan tanggung jawab seorang nabi?

Dalam ayat 17, tertulis “Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik”. Hal ini memberi gambaran bahwa TUHAN sungguh memperhatikan (peduli) akan pergumulan hidup umat-NYA, bahkan menghargai kecemasan umat-NYA. Kehadiran TUHAN, dalam perwujudan suara dan api yang dahsyat sungguh ‘menakutkan’ bagi umat-NYA. Siapa yang dapat tahan berada di hadapan TUHAN secara langsung? Maka TUHAN menyatakan kehadiran-NYA, khususnya suara-NYA melalui perantaraan seorang nabi. Dengan demikian, penting bagi umat TUHAN untuk memahami kehadiran TUHAN melalui pewartaan Firman (Suara TUHAN) dari para nabi atau utusan-NYA, juga melalui Kitab Suci (Alkitab) yang dianugerahkan kepada kita, dan rajin mendengar atau membaca-NYA. Tak ada suasana mencekam atau syarat-syarat yang sulit untuk berjumpa dan mendengar suara TUHAN, tetapi harus dengan hidup yang tidak bercela (perhatikan juga ayat 13). Semua ini membuat kita dapat hidup dekat TUHAN.

Di pihak yang lain, seorang nabi berperan untuk mengatakan semua yang TUHAN perintahkan untuk disampaikan kepada umat-NYA. Seorang nabi tidak boleh mengatasnamakan TUHAN untuk mengucapkan hal yang tidak diperintahkan TUHAN, atau mengucapkan sesuatu hal demi nama allah yang lain (baca juga ayat 21 – 22). Hal ini dikaitkan dengan kenyataan adanya para peramal, penubuat, petenung, dan pemantera di sekitar kehidupan umat TUHAN, yang dapat membuat umat TUHAN atau seorang nabi tergoda mengikuti pola perilaku dan peribadahan mereka. Umat yang tidak mendengarkan segala Firman TUHAN akan dituntut pertanggungjawabannya. Dalam hal ini nabi dan umat TUHAN diminta kesetiaan untuk hanya beribadah (taat, dengar-dengaran) kepada TUHAN saja. Umat bertahan setia pada suara TUHAN bukan karena daya tariknya tapi daya baiknya. 

Refleksi
Marilah kita berdiam diri sejenak dan mencoba merenungkan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah kita sedia untuk mendengar suara TUHAN, baik melalui Alkitab maupun perenungan atau khotbah yang disampaikan para hamba-NYA? Dan mentaatinya!
  • Jika semua orang percaya (kita) dianugerahi Roh Kudus, dan menghayati hidup sebagai hamba TUHAN, maka apakah kita juga hanya (setia) hidup memberitakan kebenaran TUHAN? 

Tekad
TUHAN, tolonglah aku agar dapat sedia dan bertahan setia mendengarkan suara-MU serta menaatinya. 

Tindakanku
Mulai hari ini, saya akan berusaha hidup hanya untuk memberitakan kebenaran TUHAN saja dengan hidup dalam tuntunan Roh Kudus (Sang Roh Kebenaran).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«