suplemenGKI.com

Senin, 21 Mei 2018

20/05/2018

Yesaya 6:1-4

MASIHKAH ANDA MENGHORMATI TUHAN?

PENGANTAR
Tuhan adalah Pencipta kita, sekaligus juga Penebus dan Tuan atas hidup kita. Karena itu, sikap yang paling mendasar yang harus kita tunjukkan di hadapan-Nya adalah menghormati Dia. Namun, benarkah bahwa kita selalu menghormati Dia? Ada banyak hal yang dapat melunturkan rasa hormat kita kepada-Nya.  Bahkan, di dalam bait-Nya pun kita bisa kehilangan rasa hormat kepada-Nya.

PEMAHAMAN
Yesaya melayani di zaman raja Uzia (Yes. 1:1) dan penglihatan ini diterimanya di tahun yang sama dengan tahun matinya raja Uzia (6:1), yaitu di sekitar tahun 739 SM. Raja Uzia adalah raja Yehuda yang dikenal juga dengan nama Azarya (2 Raj. 15:1-7; 2 Taw. 26:1-23). Uzia memerintah Yehuda selama lima puluh dua tahun (2 Taw. 26:2). Di awal pemerintahannya, raja Uzia melakukan tugasnya dengan baik hingga berhasil membangun kerajaan Yehuda yang sejahtera dan kuat (2 Raj. 15:3; 2 Taw. 26:4-15). Namun, ia tidak menghentikan penyembahan berhala di negerinya (2 Raja. 15:4). Juga, setelah berhasil, Uzia menjadi tinggi hati: Ia tidak lagi setia kepada Tuhan, melanggar kekudusan bait Allah, dan menjadi marah ketika ditegur (2 Taw. 26:16-19a). Tuhan pun menghukumnya. Ia terkena penyakit kusta hingga akhir hidupnya (2 Raj. 15:5-7; 2 Taw. 26:19b-23).

  • Perhatikanlah ayat 1. Bagaimana cara Tuhan menampakkan diri-Nya kepada Yesaya? Dengan latar belakang pemerintahan raja Uzia di atas, hal apa yang hendak Tuhan nyatakan kepada Yesaya?
  • Perhatikanlah ayat 2-4. Apa yang sedang dilakukan oleh para Serafim dengan sayap-sayap mereka? Apa yang mereka serukan?   Jika Anda berada dalam situasi seperti Yesaya, apa artinya penglihatan ini?

Yesaya melihat Tuhan yang duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang. Hal ini menegaskan posisi-Nya sebagai Raja atas segala raja. Tuhanlah yang sesungguhnya memerintah atas umat-Nya dan atas bangsa-bangsa. Jubah-Nya yang panjang, lambang keagungan-Nya, memenuhi Bait Suci. Tuhan menghendaki umat-Nya mengagungkan Dia dan tetap beribadah kepada-Nya di Bait-Nya.

Apa yang dilakukan para Serafim menunjukkan bagaimana seharusnya kita bersikap di hadapan-Nya. Mereka menghadap Tuhan dengan kerendahan hati (menutup wajah mereka), siap untuk melayani sebagai hamba-Nya (menutup kaki mereka), dan memuliakan Dia (melayang-layang sambil berseru, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, ….”). Sikap ini bertolak belakang dengan sikap raja Uzia yang kehilangan rasa hormat-Nya kepada Tuhan.

REFLEKSI
Siapakah Tuhan bagi Anda? Apakah Anda masih menghormati Dia?

TEKADKU
Ya Tuhan, tolonglah aku untuk memulihkan rasa hormatku kepada-Mu, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan setiap hari.

TINDAKANKU
Mulai sekarang aku akan lebih bersungguh-sungguh ketika beribadah. Aku akan datang minimal sepuluh menit sebelum kebaktian dimulai dan mengikuti ibadah dengan sepenuh hati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«