suplemenGKI.com

TERSAKITI NAMUN TEROBATI

1 Samuel 1:1-18

 

Pengantar
Ketika kita sedang disakiti, maka dorongan untuk berbalik tidak suka atau membenci orang yang telah menyakiti sangatlah kuat. Adakalanya ketika luka hati itu hadir dalam kehidupan seseorang dan membekas dalam ingatannya, maka orang tersebut akan melakukan pembalasan. Lantas, bagaimanakah sikap kita sebagai orang percaya ketika sedang disakiti oleh orang-orang sekitar? Saudara, hari ini kita akan berefleksi dari kehidupan seorang tokoh Alkitab yang mengalami luka hati, namun ia mampu melewati masa-masa sulitnya.

Pemahaman

  • Ayat 2-8         : Peristiwa apakah yang membuat Hana mengalami luka hati? Apa dampak dari luka hati yang dialami oleh Hana?
  • Ayat 10-11    : Apa yang dilakukan oleh Hana ketika ia sudah tak dapat menahan kepedihan hatinya?
  • Ayat 18          : Bagaimanakah kondisi Hana setelah ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan?

Hana merupakan istri dari Elkana, seorang laki-laki dari Ramataim yang setiap tahunnya pergi mempersembahkan korban kepada Tuhan di Silo. Akan tetapi Hana bukanlah istri satu-satunya, karena Elkana memiliki istri yang lain, yaitu Penina. Penina memiliki anak laki-laki dan perempuan, sedangkan Hana tidak memiliki keturunan (ayat 2). Kondisi ini membuatnya mengalami pergumulan yang teramat berat, karena pada jaman dahulu setiap perempuan yang tidak dapat melahirkan, dianggap tidak mampu memberikan masa depan bagi keluarganya. Terlebih memiliki seorang anak laki-laki adalah sebuah harapan, karena melaluinya silsilah dan warisan keluarga akan diturunkan.

Kepedihan yang dialami oleh Hana rupanya tak berhenti sampai di situ saja.  Hal ini dikarenakan oleh perbuatan Penina selalu menyakiti hati Hana secara berulang (ayat 6). Apa yang dilakukan oleh Penina telah mengacaukan hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan (ayat 7). Menariknya, ketika hatinya disakiti oleh Penina, ia tidak melakukan pembalasan apapun. Hana menyadari bahwa tak ada seorang pun yang dapat mengobati kepedihan hatinya termasuk suaminya, sehingga ia berdoa dan mengadu kepada Tuhan (ayat 10). Ia mencurahkan segala isi hatinya kepada Tuhan dan bernazar bahwa jika Tuhan mengaruniakan seorang anak laki-laki, maka ia akan mempersembahkannya kepada Tuhan (ayat 11). Hana bukan hanya meminta untuk dirinya sendiri, melainkan ia juga memohon kehendak Tuhan dalam kehidupan anaknya kelak. Ia yang tersakiti, namun pada akhirnya terobati karena mencurahkan segala isi hatinya kepada Tuhan. Setelah berada di rumah Tuhan dan berbincang-bincang dengan imam Eli, Hana pun kembali ke rumahnya, ia mau makan dan wajahnya tidak muram lagi (ayat 18).

Refleksi
Apakah saudara memiliki pengalaman pahit yang sulit terlupakan? Kepada siapakah saudara mengadu ketika sedang menghadapi beban penderitaan maupun pengalaman pahit itu? Saudara, jika kita membiarkan luka hati bersarang dalam diri dalam waktu yang cukup lama, maka hal itu akan menyiksa diri sendiri. Marilah kita datang kepada Tuhan, karena Dia yang akan mengobati segala penderitaan yang kita alami. Tuhan juga akan menolong agar kita mampu membuka hati dan melepaskan pengampunan bagi orang-orang yang telah menyakiti hati kita.

Tekadku
Tuhan, ampunilah jika sampai saat ini aku belum dapat melepaskan diri dari pengalaman masa lalu yang melukai hati. Ajarlah aku untuk memiliki kerendahan hati dan ketulusan untuk mengasihi orang-orang yang telah bersalah kepadaku.

Tindakanku
Aku akan belajar membuka hati untuk mengampuni orang yang telah menyakitiku dan memulai menjalin relasi dengannya, sehingga belenggu luka hati dapat terlepaskan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*