suplemenGKI.com

1Samuel 2:12-17.

 

Pentingnya Mendidik Anak-Anak agar Takut Akan Tuhan.

Pengantar:
Mendidik anak-anak yang Tuhan percayakan kepada kita agar hidup benar, menjauhi kejahatan dan takut kepada Tuhan adalah sangat penting, agar anak-anak tersebut nantinya akan dapat memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi: gereja, masyarakat, bangsa dan keturunan yang akan datang. Anak-anak yang tidak dididik hidup benar, menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan, akan berdampak luas: Anak tersebut akan menjadi masalah bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi gereja dan bagi keturunan yang akan datang. Perhatikanlah anak-anak Imam Eli dalam bacaan kita hari ini, bagaimana mereka hidup!

Pemahaman:

  1. Predikat apa yang dilekatkan oleh penulis Kitab 1Samuel terhadap anak-anak Eli? (v. 12)
  2. Mengapa anak-anak Imam Eli disebut “orang-orang dursila?” (v. 12b-17)
  3. Bagaimanakah peran Imam Eli dalam mendidik anak-anaknya?

Eli adalah seorang yang berjabatan “Imam” dalam bait Allah, yang kegiatannya menjadi pengantara umat dengan Allah, memimpin umat untuk menyembah, melayani dan memuji Allah. Dengan kata lain hidupnya lebih dekat dan mengenal Allah lebih baik. Tetapi mengapa anak-anak Imam Eli justru menjadi pribadi-pribadi yang jauh dari Tuhan, sehingga diberi predikat “orang-orang dursila?”

Anak-anak Imam Eli disebut dursila, karena mereka menggunakan kedudukan  mereka sebagai kesempatan untuk memuaskan keserakahan, kejahatan dan kebejatan seksual mereka, dan semua itu dilakukan justru di rumah Tuhan. Suatu tindakkan yang sangat jahat di mata Tuhan. Dalam ayat 12b-17, dijelaskan dengan rinci tentang keserakahan, kejahatan dan kebejatan anak-anak Imam Eli. Mereka tidak mengindahkan Tuhan, mengambil korban persembahan umat sekehendak hati mereka sendiri, dan yang sangat mengerikan adalah mereka melakukan berbuatan mesum dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (v. 22)

Keadaan itu tidak terlepas dari peran Eli sebagai orang tua dari anak-anaknya. Imam Eli mungkin sudah menegur anak-anaknya, tetapi kita tidak menjumpai ada tindakan disiplin keras kepada anak-anaknya ketika melakukan kesalahan, bahkan kita tidak menjumpai adanya upaya yang konkrit dari Imam Eli untuk membawa anak-anaknya untuk hidup benar, menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan. Bahkan Eli sendiri dikecam oleh Tuhan, memandang loba persembahan kepada Tuhan, menggemukkan diri sendiri (v.29) Akibatnya keturunannya tidak ada yang bisa meneruskan jabatan sebagai Imam bagi Tuhan.

Refleksi:

Mari kita tenang sejenak. Sudahkan kita mendidik anak-anak kita hidup benar, menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan? Jika belum, sekaranglah waktunya, jangan terlambat.

 

Tekad:
Tuhan, mampukan saya sebagai orangtua untuk mendidik anak-2 agar hidup takut Tuhan.

 

Tindakan:
Mulai saat ini saya bertekad mendidik anak-anak saya untuk hidup benar, menjauhi kejahatan dan takut akan Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*