suplemenGKI.com

Senin, 20 Juni 2011

19/06/2011

Yeremia 28:5-9

Hati-Hati Membedakan Yang Asli Dengan Yang Palsu

Dalam situasi dunia yang semakin hari semakin diselimuti oleh kepalsuan, kebohongan dan kemunafikan tentu semua orang menghendaki adanya perbaikan dan pemulihan. Karena hanya dengan perbaikan dan pemulihan saja maka keadaan akan menjadi lebih baik dan setiap orang akan menjalani kehidupan dengan nyaman, damai dan tentram. Namun mungkinkah akan terjadi sebuah perubahan yang bernilai kebaikan, kedamaian dan ketentraman jika tidak ada konsekuensi atau penegakkan kebenaran melalui hukuman dan ganjaran? Setiap keadaan buruk yang terjadi selalu merupakan dampak dari pelanggaran, ketidaktaatan dan ketidaksetiaan terhadap aturan yang ada. Jika ingin keadaan menjadi baik dan tentram maka harus ada konsekuensi yang akan membawa penyadaran untuk berubah menjadi baik. Yeremia 28:5-9 merupakan counter terhadap sebuah berita yang merindukan kebaikan namun tidak didukung oleh perubahan yang seharusnya dari umat Israel.

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun

  1. Siapakah Hananya dan apa yang dinubuatkan olehnya ?
  2. Siapa Nabi Yeremia dan mengapa ia melawan kabar baik yang dinubuatkan Hanaya?

Renungan:
Di setiap institusi, agama atau lembaga selalu ada dua kubu pemimpin. Kubu pemimpin yang asli dan yang yang palsu. Hananya adalah nabi yang bisa disebut palsu (27:9-10) di tengah Isreal pada masa pemerintahan Zedekia, dia dengan bangga menyampaikan berita-berita pengharapan bagi Israel bahwa Allah tidak akan murka terhadap umat-Nya. Sedangkan saat itu umat Isreal berlaku jahat di mata Tuhan (23:10-14) itu yang membuat Tuhan menjadi murka kemudian menyerahkan mereka ke tangan Nebukatnezar (27:5-8) Apa yang dinubuatkan oleh Hananya memang hal yang diharapkan umat Israel, tetapi mereka tidak sadar kalau itu tidak mungkin jika mereka sendiri masih tetap hidup dalam dosa dan melawan Tuhan. Apa yang Tuhan ijinkan terjadi bagi umat Israel adalah merupakan konsekuensi atas ketidaksetiaan dan ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, dengan memakai Nebukatnezar sebagai alat untuk menghukum mereka. Yeremia, nabi yang memang diutus Tuhan untuk menyampaikan berita-berita yang tidak diinginkan umat Israel, di mana mereka akan diserahkan ke Babel dengan segala perkakas Bait Allah sebagai konsekuensi keberdosaan mereka, justru tidak didengar bahkan dianggap nabi yang selalu menubuatkan hal-hal yang buruk bagi mereka. Umat Israel bahkan menolak dan menentang Yeremia. Itu merupakan bentuk ketidakrendahan hati sehingga tidak menyadari betapa berdosanya mereka di hadapan Tuhan. Dapat kita bandingkan bahwa Hananya, yang menjerumuskan mereka semakin dalam kepada dosa tetapi justru itu yang didengar, sedangkan Yeremia yang menyampaikan berita untuk membawa mereka keluar dari ketidaksadaran tetapi justru ditolak. Maka dapat dipastikan mereka akan semakin menderita, jatuh semakin dalam pada ketidaktaatan terhadap Tuhan. Saudara, terkadang kita tidak sadar – mengapa kita mengalami penderitaan, kesulitan, persoalan berkepanjangan, mungkin itu semua adalah dampak dari ketidaktaatan, ketidaksetiaan serta ketidakrendahan hati kita di hadapan Tuhan (walaupun tidak selalu demikian) tetapi jika firman Tuhan berbicara keras untuk mengingatkan kita, justru kita berpikir itu sebagai ketidakbenaran, sedangkan yang meninabobok dengan harapan-harapan yang justru membuat kita semakin tidak sadar itu yang kita anggap benar.

Janganlah berkata, firman Tuhan keras jika Ia sedang mengingatkan kita, karena melalui firman Tuhan yang keras kita akan menjadi sadar siapa diri kita di hadapan Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Comments are closed.

Previous Post
«