suplemenGKI.com

Mazmur 27:1-6

“ARTI HIDUP SEBAGAI ORANG BERIMAN”

 PENGANTAR

Hari ini kita akan belajar dari pemazmur tentang arti hidup beriman sambil kita introspeksi diri apakah hidup yang kita jalani benar-benar sudah hidup menjadi orang yang beriman.

 

PEMAHAMAN

  1. Ayat 1: Apa yang diimani oleh pemazmur?
  2. Bagaimana pemazmur dapat menjadi pribadi memiliki iman yang seteguh itu? Temukan jawabannya di ayat 4.
  3. Orang yang beriman teguh kepada Tuhan (ay.1), setia menumbuhkan imannya (ay.4), pada akhirnya bukan hanya menjadi orang yang tangguh menghadapi hari-harinya yang berada dalam ancaman, tetapi bahkan ada sesuatu yang lebih yang mampu dilakukan, yang sulit dilakukan orang yang tidak di dalam Tuhan.  Apakah sesuatu yang lebih itu? Temukan di ayat 6b.

 

Hari ini kita melihat ada sesuatu yang sangat sederhana dari bacaan Alkitab kita, namun sering orang lupakan, pertama-tama yaitu bahwa iman itu bukan sekadar ungkapan kata mutiara atau polesan untuk menunjukkan level tertentu kematangan rohani seseorang, melainkan sebuah pernyataan yang hidup (nyata) dalam keseharian kita. Dengan kata lain, jika pernyataan tersebut dibalik, maka akan sama artinya dengan bagaimana cara kita menjalani hidup ini, menghadapi hari-hari kita, menghadapi orang-orang di sekitar kita, itu semua menunjukkan kondisi sebenarnya dari kualitas iman kita. Kedua, agar iman itu bukan iman yang semu, kita membutuhkan usaha yang dikerjakan dengan kontinu. Sama seperti pemazmur yang menginvestasikan waktu untuk membangun persekutuannya dengan Tuhan dan hal ini nampak dari ungkapan kerinduannya untuk ‘diam di rumah Tuhan seumur hidupku’, ‘menikmati baitNya’ (ay.4).

Ketiga, ekspresi iman yang hidup (nyata) itu pada akhirnya membuat orang mampu tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan, dengan kata lain menjadi berkat dan terang bagi sesama, walaupun hidupnya sendiri sedang berada dalam berbagai cengkraman persoalan. Orang yang sungguh beriman akan memaknai bahwa hidup ini bukan tentang dirinya, melainkan tentang Tuhan. Orang yang tidak beriman akan sulit melakukan ini sebab ia akan cenderung merasa dirinya adalah korban dari keadaan, dari Tuhan, dari orang lain, dll, hingga ia tidak berpikir bahkan tidak sedia untuk menjadi berkat bagi orang lain, melainkan menuntut Tuhan dan orang lain memberkati dirinya.

 

REFLEKSI

Adakah kita memiliki kerinduan yang mendalam akan hadirat Tuhan sebagai wujud dari keyakinan bahwa dari situlah kita mendapat kekuatan iman untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan?

 

TEKADKU

Bapa di Surga, ampuni jika saya tidak menjadikan waktu-waktu untuk bersamaMu menjadi bagian penting dari hari-hari saya. Ingatkan saya untuk terus membangun keintiman bersamaMu, dengan demikian saya mampu menjalani hidup ini dengan iman yang benar, yang terus bertumbuh seiring dengan pengenalan yang makin dalam akan Engkau. Amin

TINDAKANKU

Saya akan membagikan saat teduh hari ini kepada seseorang, sembari mengingatkan diri saya dan orang lain untuk terus membangun keintiman dengan Bapa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«