suplemenGKI.com

Firman Tuhan yang ditulis dalam pasal 18 ini disampaikan pada tahun-tahun awal pemerintahan raja Yoyakim.  Dari 2 Taw 36:1-5 kita tahu bahwa Yoyakim adalah raja yang jahat, yang diangkat oleh Firaun, dan menjadi boneka yang dikendalikan oleh raja Mesir itu.  Pada waktu itu musuh mereka, yaitu kerajaan Babel, sebetulnya belum merupakan ancaman yang nyata.  Artinya, masih ada kesempatan bagi Yoyakim untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.

1.       Ay.1-4.  Mengapa Tuhan menyuruh Yeremia pergi kepada tukang periuk?  Apa yang dapat kita pelajari mengenai hubungan antara tukang periuk dengan tanah liat yang dipakainya?

2.       Ay.5-6.  Dalam hal apakah hubungan Tuhan dan umat-Nya sama dengan hubungan antara tukang periuk dan tanah liat?

3.       Ay.7-10. Menurut Anda, apakah ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sikap Tuhan terhadap manusia bisa berubah-ubah, plin-plan, dan tidak konsisten?  Dari ayat-ayat ini, apa yang dapat Anda pelajari mengenai kedaulatan Tuhan?

4.       Ay.11.  Apa tujuan Tuhan menyampaikan firman-Nya kepada mereka?  Jika pada waktu itu Anda berada pada posisi raja Yoyakim, apa yang akan Anda lakukan?

 

Renungan:

Tuhan menggunakan gambaran tukang periuk dan tanah liat untuk menegaskan kebenaran yang paling mendasar: Dia adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan-Nya.  Seperti tukang periuk terhadap tanah liat, Tuhan mempunyai kedaulatan (wewenang) penuh atas umat-Nya.  Sudah selayaknya kita tunduk dan taat terhadap seluruh kehendak dan tindakan-Nya bagi kita.

Apa yang hendak Tuhan lakukan terhadap umat-Nya?  Tuhan ingin membentuk umat-Nya, seperti tukang periuk mengerjakan kembali tanah liat itu menjadi bejana lain menurut apa yang baik dalam pemandangannya. Gambaran ini tentu saja mendorong kita untuk mempercayakan diri kita kepada rencana-Nya, sekaligus percaya akan kemampuan-Nya (baca: kuasa-Nya) untuk membentuk kita.

Apakah keseluruhan proses tersebut menunjukkan bahwa sikap Tuhan terhadap manusia bisa berubah-ubah?  Tentu saja, tidak.  Justru sebaliknya, Tuhan selalu konsiten dengan maksud dan kehendak-Nya.  Kehendak-Nya adalah agar tanah liat itu menjadi bejana yang baik.  Hanya saja, dalam proses pembentukan itu Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya begitu saja.  Dia senantiasa melibatkan manusia.  Itulah sebabnya Tuhan juga menghendaki respon positif kita atas segala rencana dan tindakan-Nya. 

Dalam perumpamaan yang digunakan ini, sesungguhnya ada kabar baik untuk kita semua.  Jika ternyata “tanah liat” di tangan-Nya itu rusak (seperti keadaan umat-Nya pada waktu itu), maka Tuhan siap untuk mengerjakan kembali. Artinya, dalam kondisi yang “rusak” pun kita masih tetap memiliki kesempatan untuk diperbaiki kembali.

Keseluruhan gambaran tersebut seharusnya cukup untuk menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan oleh umat-Nya, yaitu mendengarkan firman-nya dan bertobat dari perilaku mereka yang jahat!  Jika Tuhan sebagai tukang periuk telah siap membentuk Anda kembali, bagaimanakah sikap Anda sebagai tanah liat?

 

Tempat terbaik bagi segumpal tanah liat adalah tangan sang tukang periuk.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*