suplemenGKI.com

BELAJAR MELAKUKAN

Ulangan 30:11-14

 

PENGANTAR
Seorang pemuda bercerita sambil mengeluh karena selama sebulan mempelajari beragam teori tentang bagaimana berenang, namun tetap saja dia tidak bisa berenang.  Kira-kira apa masalah utama pemuda ini: salah belajar atau tidak tuntas belajarnya?  Ya benar, belajar teori tapi tidak dipraktikkan.  Hal yang sama juga menjadi pergumulan Israel ketika menerima perintah Musa.  Seperti apakah persoalannya?  Mari kita baca dan renungkan bacaan hari ini!

PEMAHAMAN

  • Apa sifat perintah/Firman Tuhan yang Musa sampaikan kepada umat-Nya? (ayat 11)
  • Dimanakah firman Tuhan/perintahNya berada?  (ayat 14)
  • Bacalah secara perlahan teks hari ini.  Kebenaran apa yang saudara dapatkan?

Secara konsep, “belajar” mempunyai dua makna.  Pertama, perubahan pola pikir yang diperoleh melalui proses interaksi dengan sumber pengetahuan.  Semula “tidak tahu” menjadi “tahu” dan seiring dengan kesediaan belajar, lantas berkembang dari sekadar “tahu” menjadi “memahami”.  Namun apakah proses belajar tersebut sudah tuntas?  Belum, sebab salah satu ukuran adanya perkembangan pembelajaran bukan hanya “memahami” tapi juga mampu mewujudkan apa yang dipahami melalui “tindakan” atau “perilaku”.  Jadi makna belajar yang kedua adalah “melakukan” hal-hal yang selaras dengan pemahaman. Tidak boleh ada pertentangan antara yang dipahami dan yang dilakukan.  Keduanya menjadi satu kesatuan dan saling menentukan.  “Pemahaman” menentukan apa yang boleh dan tidak, serta bagaimana melakukannya.  Sementara “melakukan” sesuai kebenaran menjadi bukti adanya pemahaman yang benar.  Sebaliknya, kegagalan atau keengganan seseorang untuk “melakukan” menunjukkan kegagalan pemahaman.

Bangsa Israel menjadi model bagi pemberitaan kasih Allah kepada bangsa-bangsa lain.  Wajar bila sepanjang relasi dengan umat-Nya, Allah senantiasa mengajarkan kebenaran firman-Nya. Tujuannya agar bangsa Israel memahami isi hati Allah dan mewujudkan “pemahaman” itu melalui sikap hidup yang seturut dengan firman-Nya.  Tapi yang terjadi bangsa Israel tidak taat.  Itu sebabnya, Musa mengingatkan mereka melalui pertanyaan retoris tentang “posisi” firman Tuhan, yang seolah berada di tempat-tempat yang tidak tersentuh, sehingga bangsa Israel menolak atau gagal melakukannya (ayat 11-13a).  Padahal firman itu dekat “di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (ayat 14). Artinya, kebenaran firman akan dialami secara nyata dan berdampak bagi perubahan hidup, bila apa yang diucapkan dilakukan sebagai pengalaman pribadi.

Kebenaran firman jangan dipahami sekadar tuntutan, tetapi juga sebagai jalan ketaatan selaku murid yang berproses menuju perubahan.  Tuhan Yesus menegaskan, “jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku…dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).  Jadi proses belajar firman yang benar haruslah tuntas dan utuh.  Bukan berhenti pada pemahaman, tapi harus sampai kepada perubahan perilaku yang selaras dengan pemahaman kristiani.  Mari kita belajar melakukan setiap firman yang kita dengar dan renungkan menjadi pengalaman yang menumbuhkan kebaikan bagi diri sendiri dan sesama.

REFLEKSI
Mari merenungkan: perubahan hidup dimulai dari kesediaan belajar firman Tuhan sehingga mengubah pola pikir.  Namun tidak berhenti sampai di situ, perubahan itu terjadi jika ada kesediaan melakukan firman sehingga mengubah pola laku.

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu.  Mampukan aku bukan hanya bertumbuh dalam pendengaran dan perenungan firman-Mu, melainkan memiliki tekad untuk belajar melakukannya dalam keseharian hidupku.

TINDAKANKU
Tiap hari aku akan menghafalkan satu ayat Alkitab dan berkomitmen melakukannya dalam relasi dengan siapapun.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*