suplemenGKI.com

Senin, 2 Juli 2018

01/07/2018

BERANI MENJADI UTUSAN ALLAH

Yehezkiel 2:1-5

 

Pengantar
John Gibson Paton adalah seorang Skotlandia yang menjadi misionaris di New Hebrides (sekarang negara Vanuatu). Sejak masa mudanya, Paton memiliki beban untuk menjadi misionaris. Oleh karena itu, Paton mempelajari theologi dan ilmu kedokteran. Namun perjalanannya sebagai misionaris ada begitu banyak tantangan. Pada masa itu, daerah New Hebrides adalah daerah yang dihuni oleh kanibal. Pada tahun 1839, dua orang Inggris datang sebagai misionaris dimakan oleh penduduk setempat, hanya dalam kurun waktu beberapa menit setelah mereka tiba. Ketika Paton menyatakan bebannya sebagai misionaris di New Hebrides, seorang tua-tua di gerejanya berteriak, “Kanibal! Engkau akan dimakan kanibal!” Dengan tenang dan bijaksana dari Tuhan, Paton menjawab, “Ketika kita mati, kita akan dimakan cacing tanah. Jika saya boleh hidup dan mati melayani dan meninggikan Tuhan Yesus, bagiku tidak ada bedanya antara mati dimakan kanibal dan dimakan cacing tanah.” Bagi Paton, melayani dan memuliakan Kristus adalah suatu hal yang utama, lebih utama dari segala yang ia miliki, termasuk nyawanya. Kisah John Gibson Paton mengingatkan kepada kita bahwa ketika Tuhan mengutus seseorang untuk menjadi alat kerajaan-Nya, maka harus ada kesiapan dan keberanian dalam meresponi panggilanNya, meskipun ada begitu banyak tantangan yang dihadapi.

Pemahaman

  • Ayat 1-2         : Mengapa Tuhan menyebut Yehezkiel dengan sapaan “anak manusia” ?
  • Ayat 3-5         : Kepada bangsa manakah Yehezkiel diutus? Bagaimanakah kondisi bangsa tersebut?

Yehezkiel adalah seorang imam dan anak Busi, seorang imam dari keturunan Zadok. Dia termasuk kelompok 10.000 orang Ibrani yang ditawan oleh Raja Nebukadnezar dari Babilonia pada tahun 597 SM ( II Raj. 24:10-17 ). Namanya berarti “Allah menguatkan” yang mengingatkan kita pada pelayanan penghiburan dan pemberian semangat di antara orang-orang Israel dalam pembuangan. Allah memanggil Yehezkiel dengan sapaan “anak manusia”. Sapaan “anak manusia” ini dipakai kira-kira 90 kali dalam kitab Yehezkiel. Sebutan ini digunakan untuk menekankan sifat nabi sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan di hadapan Allah yang MahaKuasa. Oleh karena itu, Allah memilih dan mengutus Yehezkiel yang disapa-Nya “anak manusia” berdasarkan kehendakNya semata. Namun tugas perutusan yang diemban oleh Yehezkiel bukan hal yang mudah. Yehezkiel akan diutus kepada bangsa Israel yang telah melakukan pemberontakan terhadap Allah, keras kepala dan tegar hati (ayat 3-4). Bahkan di ayat-ayat selanjutnya Yehezkiel akan mengalami masa sulit dan berbahaya seperti orang yang tinggal di tengah semak belukar yang berduri yang dihuni kalajengking yang sangat berbisa (lihat ayat 6). Tidak ada kepastian apakah Israel akan mendengarkan pemberitaan Yehezkiel akan firman Tuhan atau tidak (lihat ayat 5 dan 7). Namun Allah telah meneguhkan dan menguatkannya, sehingga Yehezkiel tak perlu takut dalam menghadapi tugas pengutusan yang penuh dengan tantangan.

Refleksi
Di dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pelayanan, ada begitu banyak orang yang mengaku Kristen tetapi belum menyatakan kehidupan sebagai umat percaya. Sebagai orang yang sudah menerima anugerah keselamatan dari Allah, sudah selayaknya kita hidup untuk menjadi pewarta kasih Allah bagi mereka.

Tekadku
Tuhan, mampukan dan berikanku keberanian untuk menjadi pembawa terangMu bagi orang-orang sekelilingku.

Tindakanku
Hari ini aku akan melakukan perkunjungan atau pendekatan personal pada salah satu rekan maupun anggota keluarga yang telah lama meninggalkan Tuhan agar mereka dapat kembali bersekutu dengan Tuhan dan sesama.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«