suplemenGKI.com

Senin, 2 Juli 2012.

01/07/2012

Yehezkiel 2:1-5

 

Diutus Untuk Menyampaikan Perkataan Tuhan

 

Setiap orang yang telah menjadi umat Allah atau telah diselamatkan di dalam Tuhan Yesus Kristus, harus menghayati bahwa dirinya juga harus siap diutus menjadi pemberita kasih Allah kepada sesama di manapun, kapanpun dan apapun keadaan yang kelak akan dihadapi. Dengan penghayatan demikian, berarti memahami hakikat diri kita sebagai utusan yang harus siap sedia mengemban tugas perutusan dari Tuhan. Bahkan memahami pula bahwa berita yang disampaikan dalam rangka mengerjakan Tugas perutusan adalah semata-mata menyampaikan perkataan Tuhan yang mengutus kita.

Pemahaman tentang apa dan perkataan siapa yang akan kita sampaikan kepada sesama dalam rangka melaksanakan tugas perutusan akan sangat mempengaruhi dan menentukan sikap, komitmen dan tanggungjawab kita dalam mengerjakannya. Yehezkiel 2:2-10, ini mengajak kita untuk memahami panggilan Tuhan kepada kita dalam melaksanakan tugas perutusan-Nya.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Apakah maksud dari Pernyataan Tuhan dalam ay. 1-3 dengan menyebut Yehezkiel “Hai anak manusia, bangunlah…” “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau…”!
  2. Kepada manusia macam apa, Tuhan mengutus Yehezkiel? (V. 4-5)
  3. Apa yang harus disampaikan oleh Yehezkiel dalam tugas perutusannya? (V. 7-10)

 

Renungan:

Yehezkiel pasal. 2 ini merupakan bagian dari kisah pemanggilan Yehezkiel sebagai nabi Tuhan. Dalam arti dipanggil dan dipilih secara khusus untuk menyampaikan berita firman Tuhan kepada umat Israel, yang pada waktu itu sedang berada di pembuangan Babel. Dengan kata lain, Tuhan mempercayakan tugas khusus kepada Yehezkiel untuk menjadi alat Tuhan memberitakan firman-Nya kepada umat Israel. Maka dapat dikatakan bahwa tugas perutusan dalam diri hamba-Nya adalah kehendak dari Tuhan. Itu sebabnya Tuhan berfirman “Hai anak manusia, bangunlah…Aku mengutus engkau…”

Tugas perutusan itu memang tidak mudah, karena harus disampaikan kepada umat Israel yang karakteristiknya keras kepala, tegar hati  dan bangsa yang pemberontak (4-5) Tuhan bahkan mendiskripsikan bangsa Israel seperti lingkungan yang penuh onak dan duri, penuh dengan kalajengking. Artinya sebuah komunitas yang sangat tidak mudah, berbahaya dan tidak simpatik.

Dalam konteks dan kondisi demikian, secara manusia memang tidak mudah. Namun Tuhan mengingatkan Yehezkiel agar tidak perlu kuatir dan takut menghadapinya. Kunci yang harus menjadi dasar pemberitaannya adalah “Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku…” Artinya apa yang harus disampaikan atau diberitakan adalah firman Tuhan. Firman Tuhan adalah seperti pedang bermata dua yang sanggup menembus sampai ke sumsum tulang, tetapi firman Tuhan juga adalah pelita yang sanggup menerangi kegelapan hati manusia, bahkan firman Tuhan juga berkuasa untuk mengubah, memperbaiki dan mengarahkan hati yang tersesat menuju pada kebenaran. Itu sebabnya dalam pemberitaan harus fokus memberitakan firman Tuhan, bukan hal yang lain-lain (band. V. 8-10)

Menyadari bahwa kita semua yang telah diselamatkan adalah menyandang tugas yang sama dengan Yehezkiel, yaitu memberitakan firman Tuhan kepada sesama yang masih berada dalam ketersesatan, hati yang tegar, kepala yang keras serta pemberontak, maka mari kita terlebih dahulu menjadikan firman Tuhan itu kekuatan, pelita dan pedoman dalam hidup kita. Dengan demikian firman Tuhan itulah yang akan memampukan kita menjalankan tugas perutusan kepada sesama kita. Kita tidak perlu kuatir, takut dan gentar sebab firman yang hidup itu akan senantiasa memampukan dan menguatkan kita. Selamat mengemban tugas pemberitaan firman Tuhan. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«