suplemenGKI.com

Janji Di Tengah Ketidakmungkinan

(Kejadian 15:1-6)

Hampir dapat dipastikan bahwa setiap orang merasa paling mengetahui keadaannya sendiri ketimbang orang lain. Pemikiran demikian memang beralasan, karena yang bersangkutan yang mengalami, yang menjalankan dan yang merasakan apa yang terjadi di dalam hidupnya, baik yang menyenangkan maupun yang tidak.

Suatu kali saya mencoba untuk memahami perasaan seorang bapak yang sudah hampir enam bulan tidak mendapat pekerjaan. Setiap hari minggu ketika yang bersangkutan datang ke gereja saya menyapanya dan bertanya “bagaimana pak, sudah mendapatkan panggilan pekerjaan?” dia akan menjawab “Belum pak, bagaimana ya, saya sudah masukan surat lamaran ke mana-mana, tetapi satupun sampai hari ini belum ada panggilan (sekarang yang bersangkutan sudah bekerja) Dengan wajah sedih dia melanjutkan “selama ini saya makan dari belaskasihan teman-teman dan uluran tangan sahabat-sahabat saya” Ketika itu saya selalu berkata “Jangan takut bapak, Tuhan pasti mengerti pergumulan bapak dan suatu saat Tuhan pasti bukakan jalan bagi bapak” Anda tahu mengapa saya selalu mengatakan demikian? Karena memang saya tidak mengetahui secara pasti bagaimana perasaannya karena saya berada di luar situasi itu, sekalipun saya berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan tetapi pasti berbeda dengan perasaan yang bersangkutan. Itu sebabnya saya tidak pernah berjanji untuk menolongnya, kalaupun saya bisa menolongnya itu hanya sekedar membantu dia untuk sedikit lega, tetapi tidak untuk membawa dia keluar dari pergumulan yang berat itu.

  • Mengapa jawaban Abram terhadap janji Allah, seakan dia kurang percaya bahwa apa yang Tuhan janjikan itu hanya sekedar penghiburan sesaat dan bukan sesuatu yang menjadi pengharapannya? (2-3)
  • Mengapa Tuhan berkata sangat optimis bahwa Abram pasti akan mendapat keturunan dan akan menjadi sangat banyak, kepada keturunannyalah ahliwaris akan diberikan, sementara saat itu keadaannya bertolakbelakang dengan kenyataan, bahwa dia tidak mendapat akan kandung/keturunan? (1, 4-5)

Renungan:

Kalimat “Jangan takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar” seharusnya membuat Abram bergembira dan terhibur dan senang. Karena Allah bersedia menjadikan diriNya perisai yang merupakan komitmen Allah untuk menjadi pelindungnya, dan upah adalah suatu hadiah yang selalu membuat orang yang menerima surpise. Karena yang namanya upah (baca: hadiah berarti didapat dengan tidak perlu bersusah payah dan kalau beruntung nilainya sangat tinggi sehingga tidak mungkin didapat kalau harus beli sendiri)

Tetapi alih-alih mau bergembira, antusias akan mendapat hadiah dan perlindungan. Tetapi Abram justru terkesan sedih, karena baginya apalah arti hadiah dan perlindungan, jika tidak punya keturunan? Makanya Abram sampai berkata “aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak” bagi Abram keturunanlah yang sangat penting ketimbang hadiah. Lanjut sikap pesimisnya terungkap lewat ucapannya “Engkau tidak memberi kepadaku keturunan, sehingga seorang hambakulah (baca: pembantu) nanti menjadi ahli warisku”

Sebuah ketidakpastian menguasai hidup Abram. Dia merasa paling tahu nasibnya sendiri, paling mengenal apa yang akan terjadi dalam dirinya kelak jika sudah meninggal. Sampai berani menyimpulkan apa yang akan terjadi diakhir hidupnya nanti. Dalam kasus ini Abram terlalu percaya diri tentang keterbatasannya dalam  mengenal dirinya, seolah semuanya tidak akan berubah dan statis seperti yang dirasakanya. Dia lupa bahwa Allah jauh lebih mengenalnya, jauh lebih punya rencana baginya dan jauh lebih mempersiapkan kebaikan bagi dirinya. Di sinilah iman itu harus berbicara keras yaitu harus menyikapi ketidakpastian itu  dengan iman kepada Allah yang berkata “jangan takut, Akulah perisaimu; upahmu sangat besar”

Saudara hidup yang kita hidupi di dunia ini serba tidak pasti, bahkan termasuk apa yang kita pikirkan dalam hidup ini. Tetapi ada satu yang selalu menjanjikan kepastian dan itu terus dipersiapkan bagi kita, yaitu janji Tuhan, jika Dia berkata agar kita “jangan takut” maka tugas kita adalah mempercayai janji-Nya itu dan jangan ukur dengan apa yang kita alami, jalani dan pikirkan saat ini, tetapi ukurlah dengan setiap apa yang telah kita dapatkan dari Dia selama hari-hari yang telah kita lewati. Dia adalah kepastian kita yang sejati.

“Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah”

(Markus 10:28)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*