suplemenGKI.com

PERTOBATAN HIDUP
Mazmur 51

Mazmur pengakuan dosa ini mengungkapkan perasaan terdalam Daud terhadap dirinya yang telah melakukan dosa, dan yang tanpa disadarinya telah berbuahkan dosa yang kelak menimbulkan pertumpahan darah tak henti di keluarganya. Mazmur ini juga mengungkapkan kasih setia dan belas kasih Tuhan terhadap orang yang diperbudak dosa, yang tidak berdaya menyelesaikannya sendiri.

Hal-hal apa saja yang bisa Anda teladani dari Daud di Mazmur ini? Renungkan juga dengan membandingkan dengan yang akan dilakukan orang-orang di zaman sekarang andai berada dalam posisi sebagai raja Daud pada saat itu.
a. Dilihat dari motif dan isi permohonan Daud.
b. Dilihat dari latar belakang kejayaan dan posisi/jabatan Daud pada saat itu.
c. Dilihat dari kedekatan hubungannya dengan Allah selama ini.

RENUNGAN

Melalui renungan hari ini, kita bisa mempelajari beberapa hal dari Raja Daud:
a. Ketulusannya dalam menaikan permohonan dan penyesalan.
Berbeda dengan kebanyakan orang di masa kini yang memohon-mohon ampun hanya karena tidak ingin memikul tanggung jawab konsekuensi atau hukuman, Daud datang dengan ketulusan, bukan karena takut akan hukuman, tetapi lebih karena penyesalannya yang begitu mendalam karena telah melukai hati Allah yang dikasihi dan mengasihinya.
b. Kerendahan dan kebesaran hatinya untuk mengakui dosa tanpa pembelaan apapun.
Pada saat menaikkan permohonan kepada Allah, Daud tidak mengutip satu pun kejayaan atau jerih payah perjuangannya sebagai senjata untuk “merayu” Allah agar mengurangi hukuman-Nya. Sama sekali tidak. Daud hanya berserah kepada anugerah Allah semata. Terkadang sulit bagi kita untuk bersikap demikian, sebab terkadang kita suka salah menempatkan diri di hadapan Allah dengan merasa diri sebagai ‘orang yang telah berjasa’ bagi Allah sehingga Allah harus memberi imbalan yang pantas atau memperlakukan kita dengan baik.
c. Iman dan penghayatannya akan tindakan pendisiplinan dari Allah.
Jika kita mengingat latar belakang kedekatan Daud dengan Allah selama ini, tidak membuat Daud marah dan kecewa ketika Allah menghukumnya. Dari Daud kita belajar bahwa penghukuman orang percaya lebih mengarah ke masa depan dan bukan ke masa belakang; bukan untuk menghukum dosa masa lalunya, tetapi mengoreksi untuk mempersiapkannya menjalani masa depan dengan lebih baik. Orang yang tidak mengenal Allah dengan baik, akan menganggapnya sebagai kutuk atau pembalasan Tuhan, dan tidak percaya bahwa ia dikasihi Tuhan. Hanya ketika orang dapat melihat bahwa Allah marah pada kejahatannya, tetapi bersikap penuh kasih sayang terhadapnya, ia baru akan mendapatkan manfaat dari hajaran Tuhan. Itulah sebabnya, Daud dapat berkata, orang percaya mendapatkan berkat lebih melalui hajaran Tuhan yang menindas mereka (Mz. 94:12-13).

Pengakuan dan pertobatan yang tulus di hadapan Allah membuka jalan yang selebar-lebarnya bagi terjadinya pemulihan hidup.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*