suplemenGKI.com

“Sukaku Tidak Mengabaikan Dukamu”

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab

  1. Ayat 13-14:  Berita gembira apakah yang diterima Abraham dan Sara?
  2. Bandingkan dengan ayat 20-21, sekarang berita apa yang diterima oleh Abraham?
  3. Ayat 22-23: Walaupun Tuhan belum menyampaikan rencanaNya atas Sodom dan Gomora, tetapi Abraham sudah bisa memperkirakan apa yang akan terjadi pada Sodom dan Gomora.  Bagaimana perasaan Abraham? Apa yang dilakukan Abraham?
  4. Dari dua kejadian/berita yang diterima Abraham pada saat yang hampir bersamaan dan bagaimana cara Abraham menyikapi kedua kabar tersebut, apa yang bisa Anda pelajari dari seorang Abraham?
  5. Renungkanlah: Hal-hal apakah yang mungkin seringkali mempersulit Anda dan juga sebagian besar orang untuk bisa bersikap seperti Abraham?

Renungan

Ketika diminta untuk memberi perhatian lebih kepada orang lain, biasanya orang akan berkata, “diri sendiri sudah susah kok masih harus ngurusi orang lain”, atau “saya saja kurang diperhatikan kok sekarang malah minta saya memperhatikan orang lain.”  Kesusahan, persoalan hidup seringkali menajamkan sifat manusia yang egois dan individualis, dan itulah sebabnya kita perlu memberi acungan jempol bagi mereka yang sedang dirundung kesusahan tetapi masih bersedia menjadi berkat dengan menolong orang lain yang juga sedang susah.

Namun bacaan kita hari ini mengingatkan kita terhadap sisi lain dari keegoisan manusia. Lebih lanjut biasanya kita mendengar orang berkata, “nanti kalau masalah saya sudah selesai, saya bantu kamu”, atau “nanti tunggu kalau saya sudah hidup enak, saya berbagi denganmu.” Namun pada kenyataannya ketika kesenangan itu datang, orang lupa dengan apa yang dikatakannya dulu dan tetap saja bersikap tidak peduli terhadap kesusahan orang lain. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa baik kesusahan maupun kesenangan, jika tidak dihayati dengan tepat akan menjerat manusia hidup dalam dunianya sendiri, egois dan tidak peduli terhadap pergumulan orang lain.

Sikap Abraham hari ini, sederhana saja mengingatkan kita bahwa ketika berkat, kesenangan, kabar gembira itu sedang ‘berpihak’ pada kita, jangan lupa diri sehingga melupakan kesusahan orang lain.  Bahkan termasuk kesusahan yang dialami orang lain akibat kesalahan mereka sendiri.  Jangan berkata, “Sukurin, rasakan, kapok!” dan lain-lain yang bernada sama.  Mari tetap memandang kepada Tuhan bahwa Dia yang memberikan berkat kepada kita semata hanya karena kemurahanNya, bukan karena kita lebih baik dari orang lain sehingga sudah sepantasnya Tuhan memberkati kita dan sebaliknya, menimpakan kesusahan pada orang lain.

“Kesenangan maupun kesusahan yang datang selalu memberi jalan untuk hidup saling menjadi berkat satu dengan yang lain.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*