suplemenGKI.com

Bacaan : Yesaya 58: 1-8.

IBADAH YANG BENAR

PENGANTAR
Apabila manusia beragama mengalami kesulitan, maka ia suka datang kepada Allah dengan korban persembahan, puasa dan doa, dengan maksud memperoleh pertolongan Illahi. Secara sadar atau tidak ia ingin berjasa kepada Allah, agar kepentingannya diperhatikan Allah. Sebenarnya orang-orang yang berbuat demikian itu tidak merendahkan diri dihadapan Allah untuk memuji Allah melainkan supaya Allah mengangkat dan mendengarkan mereka. benarkah hal tersebut ? apakah kita juga melakukannya ? renungan 4B hari ini akan menjelaskannya.

PEMAHAMAN.
1. Mengapa Tuhan menegur umat Israel dengan keras ? apa yang Tuhan peringatkan (ayat 1-5).
2. Apa yang Tuhan kehendaki agar umat melakukannya ? (ayat 6-8)

Sejak dahulukala, orang-orang melakukan puasa untuk menguatkan permintaan doa mereka. Contoh : Daud demi keselamatan anaknya yang sakit (2 sam 12 : 16); apabila hidup umat Israel terancam, apalagi karena kesalahannya sendiri, maka orang-orang dipanggil umtuk bersama-sama berpuasa, mengaku salah dan memohon pertolongan Allah ( Hak 20:26-2 ; 1 Sam 7:6 ; Yer 36:9 ). Ketika bait suci sudah runtuh maka tidak ada lagi tempat untuk menyembelih korban, akan tetapi mereka selalu dapat berpuasa untuk mengingat kasih Allah kepada umatNya dengan ini puasa menjadi ibadah terpenting bagi umat Israel.

Namun, ibadah puasa mereka menjadi suatu peringatan keras, karena mereka hanya berpuasa secara lahiriah saja, mereka hanya ingin menarik perhatian Tuhan saja untuk memperoleh berkatNya. Mereka rajin beribadah supaya Tuhan mengindahkan usaha mereka, akan tetapi sikap mereka terhadap sesama (kaum lemah) sama sekali tidak menghargai, mereka tetap menindas kaum yang lemah dan memperlakukan mereka secara tidak adil.

Sudah barang tentu Tuhan tidak berkenan dengan ibadah puasa seperti itu. Tuhan memerintahkan agar umat Israel membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, hal ini berarti jangan ada tindakan kekerasan tetapi justru harus menyatakan kasih, membagi roti bagi yang lapar, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi tumpangan kepada orang miskin dengan berbuat demikian maka terang mereka dapat bersinar, sehingga mereka dapat mengerti akan ibadah yang benar. Bagaimana dengan saudara?

REFLEKSI
Ambilah waktu untuk merenungkan :
-     Bagaimana ibadah saudara selama ini?
-     Bagaimana perlakuan saudara terhadap orang lemah?
-     Apakah ibadah saudara sinkron dengan perbuatan saudara?
-     Jika belum mintalah ampun pada Tuhan.

TEKADKU
“Ya Tuhan ampunilah saya, karena ibadah saya kepada Tuhan tidak sinkron dengan perbuatan saya terhadap sesama”

TINDAKAN
Mulai hari ini saya akan berlaku adil terhadap sesama, dengan menghargai mereka dan mengasihi yang lemah.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • Dkn. Terang Ukur Ginting says:

    Kita memang sering tanpa sengaja mau ‘menyogok’ Tuhan melalui ibadah dan perbuatan baik atau yang lainnya. Padahal, seharusnya ibadah dan perbuatan baik dan menjadi saluran berkat dan kasih adalah suatu perbuatan ungkapan syukur karena kita telah diselamatkan Tuhan Yesus dari maut akibat dosa-dosa kita. Terima kasih atas renungannya dan telah mengingatkan bagaimana menjadi murid Tuhan yang benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«