suplemenGKI.com

Senin, 18 Juni 2012

17/06/2012

Ayub 38:1-11

Memahami Yang Tak Terpahami

 

Rangkaian pertanyaan di perikop ini merupakan ‘bantahan’ Allah atas pemahaman teman Ayub, Elihu, ketika menjelaskan atau mencoba memberikan jawaban terkait dengan penderitaan badani yang Ayub alami.

Pertanyaan Penuntun:

  1. Melalui media apa Allah menyatakan diriNya kepada Ayub?  (ayat 1)
  2. Apa tujuan Allah mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut?
  3. Apa yang kita pelajari tentang diri Allah dan manusia melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut?
  4. Bagaimana respons Ayub?  (39:37)

 

RENUNGAN

Ayub adalah tokoh yang dibicarakan dalam perikop ini.  Orangnya saleh, jujur dan takut akan Allah serta menjauhi kejahatan.  Secara sosial dan ekonomi, Ayub adalah pribadi yang mungkin bisa menjadi idola.  Segalanya dia punya dan berlebih, bahkan dikatakan sebagai orang terkaya di sebelah timur.   Ayub kemudian mengalami musibah yang menyebabkan ia kehilangan segalanya.  Pengalaman  Ayub seolah menyalahi hukum retribusi.  Siapa yang salah mendapat hukuman; siapa yang benar akan mendapat berkat/hadiah.  Ayub orang yang taat, maka tidak seharusnya mengalami penderitaan.  Mungkin kontradiksi inilah yang  membuat teman-teman Ayub, termasuk istrinya menyalahkan Ayub.  Secara manusiawi, Ayub pun tidak serta merta bisa mengerti dan meneriman keadaan ini.  Elihu, teman Ayub,   berusaha menjelaskan Allah dalam hubungannya dengan kesalahan Ayub.

Pertanyaannya, benarkah Allah identik dengan keadaan yang tampak di depan mata untuk kemudian dengan mudah dimengerti dan dijelaskan?  Apa ukurannya bahwa yang dijelaskan sama seperti yang Allah inginkan?  Dalam pengalaman hidup orang percaya, ada peristiwa yang mudah dimengerti dan diterima.  Sebaliknya, ada juga hal-hal yang meskipun kita sudah berusaha memahami tokh tetap tidak bisa dimengerti.    Beragam upaya dilakukan termasuk meminta petunjuk kepada Allah melalui meditasi dan pengansingan diri, tetapi Dia seolah diam beribu bahasa.  Sering manusia cenderung terlalu cepat menyimpulkan makna dibalik peristiwa, bahkan menyamaratakan makna untuk setiap peristiwa.  Seolah kedirian Allah berada dalam genggaman logika manusia yang terbatas.  Inilah yang sedang dilakukan Elihu.

Sesungguhnya Allah tidak berdiam diri.  Allah mempunyai cara unik menjelaskan diri dan kehadiranNya, seperti ketika berhadapan dengan Ayub.  Allah menjelaskan kekuasaanNya yang tidak terpahami melalui badai (ayat 1).  Dalam perenungannya, Ayub berhadapan dengan rangkaian pertanyaan yang mengajaknya merenungkan kembali keterbatasan manusia dalam memahami Allah yang tak terbatas.  Itu sebabnya, rangkaian pertanyaan ini tidak memberikan jawaban langsung terhadap pergumulan yang dihadapi Ayub;  juga tidak dimaksudkan sebagai jawaban bahwa Allah adalah pribadi yang paling bertanggung jawab atas penderitaannya.  Tetapi mengajak Ayub untuk merendahkan diri di hadapan Allah yang maha kuasa dan tidak tertandingi itu.  Allah mengajak Ayub untuk menemukan diriNya dalam jalinan peristiwa, tanpa terlalu cepat menuduh  (atau “mencela”, 39: 35) bahwa Dialah penyebab  penderitaannya.  Dalam diamnya, Ayub justru sampai pada kesadaran bahwa, “aku ini terlalu hina;  jawab apakah yang dapat kuberikan kepadaMu?” (39:37).

Memahami Allah bukan berarti menjadikanNya terbatas dalam batas logika kita.  Dia yang tak terbatas punya cara unik menjelaskan diriNya, sehingga perjumpaan itu menjadi momen yang menyadarkan keterbasan diri dan perlunya bergantung padaNya.

Pemahaman manusia bukan tolok ukur untuk segala karya Allah

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«