suplemenGKI.com

Senin, 18 Juli 2011

17/07/2011

I Raja- Raja 3:5-12

Pemimpin yang Sadar Diri

 Bacaan kita kali ini berkonteks di masa-masa awal pemerintahan Salomo setelah ia didiurapi menjadi raja.  Secara khusus dari ayat terpilih kita bisa membaca percakapan Salomo dengan Allah yang dijumpainya melalui mimpi.  Di sinilah kita akan menemukan bahwa Salomo adalah pemimpin mendasari permintaannya dengan kesadaran diri.

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Dimanakah Salomo dan apa yang dilakukannya sebelum berjumpa Allah? (ayat 4)
  2. Melalui sarana apakah Allah berbicara kepada Salomo? (ayat 5)
  3. Bagaimana Salomo memahami ayahnya dan dirinya di hadapan Allah?  (ayat 6)
  4. Apa yang Salomo sampaikan sebelum ia mengutarakan permintaannya? (ayat 7, 8)
  5. Sebagai pemimpin, mengapa Salomo meminta hikmat dari Allah? (ayat 9)
  6. Apakah Allah mengabulkan permintaan Salomo?  (ayat 11)

 RENUNGAN

Setiap orang adalah pemimpin.  Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.  Namun tidak secara otomatis setiap orang siap dan mampu menjadi pemimpin. Sikap yang jemawa dari pemimpin hanya akan menjerumuskan dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.  Itu sebabnya, setiap pemimpin perlu mempunyai kesadaran diri sebagai bentuk kebajikan yang akan menolongnya berhati-hati dan bijaksana menjalankan kepemimpinannya.

Pastilah tidak mudah berada di posisi Salomo sebagai raja pasca meninggalnya Daud, yang notabene adalah seorang raja besar, pahlawan perang dan dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan Allah-nya.  Salomo sebagai anak pasti tahu kebesaran seorang Daud di mata Israel.  Apakah hal ini membuat Salomo merasa iri dan kemudian  ingin lebih besar dari Daud?  Atau sebaliknya membuat Salomo merasa minder/kecil hati ketika dibandingkan dengan Daud?                             Ayat 6 justru mengungkapkan kekaguman Salomo akan Daud;  sekaligus pengakuannya akan kedaulatan  Allah  yang  “telah menjamin kepadanya  kasih  setia  yang  besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.”  Salomo justru banyak belajar dari ayahnya dan bersikap terbuka/sadar dengan konteks yang dia hadapi dalam kepemimpinannya.  Yaitu, bahwa Salomo “masih sangat muda dan belum berpengalaman” (ayat 7);  dan harus memimpin “suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya” (ayat 8).

Atas dasar dua pertimbangan di atas, dengan penuh kesadaran diri Salomo merasa perlu minta “hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat” (ayat 9).  Bagi orang Israel, hati merupakan pusat pikiran dan perasaan.  Penting bagi raja memiliki hati yang peka, yang mengerti mana yang benar dan mana yang salah, sehingga ia sanggup menjalankan tugas dengan baik.  Yaitu menjadi raja yang adil dan dapat menyejahterahkan rakyatnya.

Salomo sebagai pemimpin sadar akan dirinya sehingga hanya kepada Allah ia meminta hikmat.  Allah memandang baik dan memberikannya.  Pemimpin yang sadar diri berarti bersedia mengakui kelemahan dan ketidakmampuan dirinya;  sekaligus menyatakan keinginannya untuk bergantung serta meminta kekuatan Allah. Jadi setiap pemimpin perlu mempunyai kesadaran diri.

Tanpa kesadaran diri, seorang pemimpin tidak akan menemukan dan mengatasi kelemahan dirinya

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*