suplemenGKI.com

Imamat 19:1-36

Kuduslah Kamu #1 

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

Kitab Imamat berisi peraturan-peraturan untuk ibadat dan upacara-upacara agama bangsa Israel di zaman dahulu. Juga untuk para imam yang bertanggung jawab atas pelaksanaannya.

Yang menjadi pokok dalam kitab ini ialah kekudusan Allah, dan bagaimana manusia harus  hidup dan beribadat supaya tetap mempunyai hubungan baik dengan TUHAN, Allah Israel.

  1. Melalui perantara siapakah Tuhan berfirman kepada umatNya?  (ayat 1)
  2. Apa yang  Tuhan mau umatNya lakukan?  (ayat 2)
  3. Bagaimana kekudusan hidup dinyatakan dalam keluarga?  (ayat 3)
  4. Apakah ibadah kita harus kudus?  Bagaimana caranya?  (ayat 4, 5)
  5. Apakah kehidupan sosial kita harus kudus?  Bagaimana caranya?  (ayat 10) 

RENUNGAN

Panggilan Tuhan kepada Israel bukan terjadi karena faktor kelebihan sehingga menjadikannya bangsa istimewa dibanding yang lain.  Pilihan Tuhan semata-mata berdasarkan kasih dan anugerahnya.  Tujuannya membentuk Isarel menjadi bangsa yang mengasihi Tuhan dan menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain yang belum mengenalNya.  Itu sebabnya, salah satu tema penting sejak Israel dipanggil keluar dari Mesir sampai kembali ke tanah Perjanjian adalah kudus/kekudusan hidup, seperti yang tertulis di kitab Imamat.  “Kuduslah kamu” dalam bacaan menjadi  inti dari seluruh isi uraian berikutnya;  bahwa kekudusan hidup tidak berbicara mengenai hanya pada bidang tertentu saja.  Tetapi menyangkut keseluruhan diri sebagai umat Tuhan.  

Dalam semua hal kita mempunyai alasan untuk hidup kudus.  Alasan untuk hidup kudus didalam segi kehidupan adalah karena Tuhan Allah kudus adanya (ayat 2).  Kekudusan pertama-tama harus dipraktikan di dalam hubungan-hubungan keluarga (ayat 3). Kedua, di dalam memelihara hukum Sabat (ayat 3b). Ketiga, dengan tidak menyembah berhala (ayat 4) dan mengikuti aturan tentang ibadah (ayat 5). Keempat, dengan memperhatikan kebutuhan sesama kita (ayat 9-11) dan menghormati hak dan hidup sesama kita (ayat 12-18). Hal ini kita penuhi dengan memberlakukan keadilan, dan kasih. Kelima, dengan menghormati ciri-ciri khas yang telah Tuhan ciptakan (ayat 19-24). Keenam, dengan memberi kesempatan bagi tumbuh-tumbuhan untuk berbuah dewasa baru di petik hasilnya (ayat 25-26). Ketujuh, dengan tidak meniru kebiasaan orang-orang kafir (ayat 27-31), khusunya tidak mempraktekkan pelacuran bakti (ayat 29-30) dan okultisme (ayat 31). Kedelapan, dengan menghormati orang tua usia (ayat 32), dan akhirnya dengan menunjukan kasih dan keadilan pada sesama manusia dan didepan pengadilan (ayat 33-36). 

Bagaimanakah kita menerapkan hukum-hukum ini untuk masa kini? Tentu tidak semua rinci hukum-hukum ini masih mengikat untuk kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Namun prinsip dari hukum-hukum ini harus terus kita taati.  Bila kita menengok sebentar keadaan dunia hari ini.  Ada banyak tantangan dan keadaan yang seolah tidak memberi kesempatan orang percaya untuk bertindak benar/kudus?  Tapi benarkah tidak ada pilihan lain sehingga jalan pintas yang tidak kudus harus ditempuh?  Namun sebaliknya, kita juga tidak dipanggil untuk menjauh dari dunia yang seperti itu.  Justru inilah makna dan tujuan panggilan kita sebagai orang percaya, yaitu memancarkan/meneladankan kekudusan dalam segala bidang di tengah dunia yang sedang mengalami krisis kebenaran. 

Kekudusan hidup orang percaya adalah panggilan untuk menjadi teladan kudus di tengah dunia

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«