suplemenGKI.com

Yehezkiel 34:11-16

ALLAH SEBAGAI RAJA YANG MENGGEMBALAKAN

 

Pengantar
Kata “raja” sering dipahami berkonotasi buruk:  menggunakan kekuatan, sewenang-wenang, tidak peduli, suka perang, emosional dan hal-hal negatif lainnya.  Paling tidak itulah gambaran umum tentang raja dari buku cerita dan film.  Apakah demikian juga dengan gambaran Allah sebagai Raja?

 

Pemahaman
Ayat 2-6:   Konteks apa yang didapat dari rangkaian ayat ini tentang gembala-gembala Israel?

Ayat 11-12:  Peran apa yang Allah akan lakukan kepada umatNya?

Ayat 12-16:  Kata-kata seperti apa yang menegaskan peran dan kedudukan Allah di hadapan umatNya?

Perikop ini merupakan bagian dari nubuatan yang diterima Yehezkiel (34:1-2) berkaitan dengan kondisi bangsa Israel.  Dari nubuatan itu, kita bisa membaca kritik dan sikap tegas Allah kepada para pemimpin Israel, baik nabi maupun raja pada khususnya.  Sebab mereka sebagai pemimpin telah menelantarkan, mengabaikan dan tidak merawat umat Allah.  Bahkan hanya mengambil keuntungannya saja.  Itu sebabnya Allah dengan tegas berfirman, “dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan . . . mencari . . . menyelamatkan . . . Kugembalakan . . .domba-dombaku.  Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya” (ay.11-12).  Ketegasan Allah ini dimaksudkan untuk mengembalikan umat Israel pada keadaan sebagaimana seharusnya (ay.16)  Di sisi yang lain, Allah juga bermaksud meneladankan peran yang semestinya dijalankan oleh para pemimpin kepada umatNya.  Tidak seharusnya mereka membiarkan dan menelantarkan umatNya.  Menjadi pemimpin (Raja) seharusnya tidak sekadar dipahami sebatas kekuasaan memerintah, tapi juga kepercayaan untuk mencari yang terhilang, membangun yang lemah, memberi perhatian, dan membimbing yang tersesat.

Sikap dan komitmen Allah yang tidak menelantarkan umatNya patut dicontoh.  Allah telah menunjukkan keteladanan diri sebagai raja yang menggembalakan (menuntun dan membimbing) umatNya. Gembala yang peduli dengan perubahan kehidupan umatNya. Bagaimana dengan kita?  Setiap kita adalah pemimpin bagi orang lain.  Kebaikan hidup yang kita lakukan seharusnya  mampu menjadi teladan yang menginspirasi orang lain, untuk turut melakukan hal yang sama atau lebih.  Kebaikan yang demikian perlu dilakukan dengan sengaja, sehingga berdampak secara luas.  Tidak ada kata terlambat untuk memulai perubahan.  Mari meneladani sikap dan komitmen Allah sebagai gembala dalam kehidupan bersama orang lain


Refleksi:

Menjadi gembala berarti melakukan yang terbaik bagi sesama.


Tekadku

Aku mau meneladan sikap Allah sebagai gembala yang baik.


Tindakanku

Aku mau menjadi gembala yang baik bagi sesamaku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*