suplemenGKI.com

SENIN, 17 MARET 2014

16/03/2014

Keluaran 17:1-3

CARA PANDANG TERHADAP PERSOALAN

 

Pengantar
Persoalan dan tantangan dalam hidup pasti ada.  Lalu bagaimana tetap beriman dan berpengharapan?  Hal itu tergantung bagaimana cara pandang kita terhadap persoalan dan tantangan yang ada itu.  Jika kita memandang bahwa persoalan dan tantangan itu adalah hal yang wajar ada, bagaikan kerikil-kerikil yang harus kita lewati dalam langkah-langkah perjalanan hidup maka iman dan pengharapan kita akan semakin teguh.  Jika kita memandang kerikil-kerikil ‘persoalan dan tantangan’ sebagai batu-batu besar maka timbullah ketidakpercayaan kepada Allah, hilanglah iman dan pengharapan kepada-Nya. 

Pemahaman

  • Apakah tantangan dan persoalan yang di hadapi bangsa Israel di Rafidim?  (ayat 1)
  • Bagaimana bangsa Israel memandang tantangan dan persoalan itu?  (ayat 2)
  • Bagaimana sikapnya di hadapan Tuhan?  Apakah menunjukkan kepercayaan kepada-Nya? (ayat 3)
  • Bagaimana iman dan pengharapan kita di saat menghadapai persoalan dan tantangan?

Setelah melewati padang gurun Sin, berjalanlah bangsa Israel melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian dan sampailah mereka di Rafidim.  Setelah beberapa waktu berjalan, mereka sangat membutuhkan air untuk minum dan keperluan yang lain (ay.1).  Namun di Rafidim mereka tidak menjumpai air.  Mulailah mereka bertanya dengan marah kepada Musa dan bersungut-sungut kepada Tuhan (ay. 2-3).  Ketiadaan air minum merupakan masalah ‘kecil’ di hadapan Allah.  Namun, menurut pandangan bangsa Israel hal itu merupakan masalah bagaikan ‘batu besar’ sebab mereka kurang percaya.  Memang kesulitan air di Rafidim tetaplah persoalan dan tantangan yang nyata di hadapi bangsa Israel.  Namun, bila dibandingkan dengan persoalan dan tantangan yang mereka hadapi sebelumnya justru di Rafidim ini lebih kecil.  Bangsa Israel tidak mengingat perbuatan besar yang Allah telah perbuat, yakni membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan menyertai perjalanan mereka bahkan mencukupi kebutuhan jasmani selama berada di padang gurun (ay. 5-6).

Sebagai orang percaya, saat ini kita juga bagaikan musafir-musafir yang sedang menuju pengenapan janji-janji-Nya.  Tentu berbagai persoalan, kesulitan atau tantangan secara fisik maupun mental-spiritual kita hadapi dan Dia ijinkan menghadang.  Maksud Tuhan adalah agar kita beroleh kesempatan membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang patut sepenuhnya kita andalkan dan percayai.  Memandang persoalan dan tantangan dengan beriman dan berpengharapan kepada-Nya itulah yang pasti harus kita miliki.

Refleksi
Mari merenungkan kasih setia Tuhan yang menyertai dan memberikan jalan keluar bagi persoalan dan tantangan hidup di masa lalu.  Lalu, temukan bagaimana cara pandang kita terhadap persoalan dan tantangan yang kita hadapi saat ini.  Masihkah iman dan pengharapan kita dalam posisi yakin bahwa Dia patut diandalkan?

Tekadku
Aku mau membenahi cara pandangku terhadap persoalan dan tantangan.  Iman dan pengharapanku seharusnya menyakini bahwa Dia patut diandalkan.

Tindakanku
Hari ini aku akan tunjukkan iman dan pengharapanku kepada-Nya dengan cara ………. (cth. semangat lagi bekerja, tersenyum kepada orang-orang yang kujumpai, berdoa dan baca firman-Nya, menerima dengan senang hati kunjungan atau sapaan saudara seiman, dll).

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«