suplemenGKI.com

Yakobus 1:1-8

MINORITAS, HARUSKAH BERKELUH-KESAH?

PENGANTAR
Kita sering mendengar keluh-kesah orang-orang Kristen terkait dengan statusnya sebagai kaum minoritas. Memang, dengan status minoritas itu, orang-orang Kristen sering menjadi sasaran empuk kaum intoleran: diperlakukan tidak adil, dikucilkan, diintimidasi, dan bahkan dianiaya. Dengan posisi sebagai minoritas, memang tidak banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghindar dari kesulitan atau mengubah keadaan. Namun, berkeluh-kesah justru akan membuat masalah makin terasa berat.

PEMAHAMAN

  • Ay. 1-2.  Kepada siapakah surat ini ditujukan? (ay. 1). Apa yang dimaksudkan Yakobus sebagai “jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan”? (ay. 2).
  • Ay. 3-4.  Mengapa Yakobus menyebut cobaan-cobaan itu sebagai suatu kebahagiaan? (ay. 3-4).
  • Ay. 5-8.  Mengapa hikmat di sebut di sini, dan bagaimana kita mendapatkannya? (ay. 5). Apa hubungan antara hikmat dan iman? (ay. 6-8).

Yakobus menulis suratnya kepada ”dua belas suku di perantauan” (ay. 1). Mereka adalah orang-orang Kristen-Yahudi yang hidup merantau dan tinggal di antara orang-orang non-Yahudi yang belum mengenal Kristus. Jadi, ”jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan” yang dimaksudkan di sini bukanlah jatuh di dalam dosa, tetapi menghadapi berbagai macam penderitaan yang disebabkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Seperti kita tahu, kelompok minoritas – khususnya dalam hal suku dan agama – sering menerima perlakuan diskriminatif dan mengalami penganiayaan oleh kelompok mayoritas.

Yakobus mengajak mereka melihat buah dari penganiayaan yang mereka alami. Istilah ”sebab kamu tahu” (ay. 3) berarti bahwa mereka telah belajar dari pengalaman. Penganiayaan yang mereka alami ternyata telah membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang tekun. Mereka tetap teguh bertahan menghadapi kesulitan. Ketekunan itu pada waktunya akan membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang ”sempurna” (artinya, mencapai tujuan atau visi mereka sebagai murid-murid Kristus) dan ”utuh” (artinya, seluruh aspek kehidupan mereka bertumbuh dengan baik). Itulah sebabnya Yakobus mengajak mereka menghadapi penganiayaan itu dengan sukacita (ay. 2, ”sebagai suatu kebahagiaan”).

Dalam hal itulah hikmat berperan penting. Mereka yang tidak memiliki hikmat tidak akan sanggup melihat dan memandang penderitaan dengan cara demikian. Karena itu, mereka harus memintanya kepada Allah. Yakobus menyebut Allah ”murah hati” (ay. 5). Artinya, Allah pasti memberikan hikmat itu kepada mereka. Karena itu mereka harus memohon dengan penuh keyakinan (ay. 6, ”dalam iman”).

REFLEKSI
Posisi sebagai kaum minoritas, meskipun menghadapkan kita dengan banyak kesulitan, tidak boleh membuat kita kehilangan sukacita sebagai murid-murid Kristus.

TEKADKU
Tuhan, berikanlah aku hikmat agar aku tetap tekun berjuang menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, juga ketika aku berada di antara orang-orang yang belum percaya kepada-Mu.

TINDAKANKU
Selama tiga hari ke depan, aku akan berdoa bagi gereja atau orang-orang yang mengalami tekanan dan hambatan dari orang-orang yang tidak seiman di sekitar mereka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*