suplemenGKI.com

Senin, 15 Juli 2019

14/07/2019

KERAMAHTAMAHAN SEJATI

Kejadian 18:1-8

 

Pengantar
Keramahtamahan menjadi identitas bagi bangsa Indonesia. Salah satu buktinya adalah dalam perhelatan Asian Games tahun lalu, Indonesia dinilai oleh tamu-tamu dari negara di Asia sebagai tuan rumah yang ramah dalam menyambut dan memfasilitasi mereka. Wajah keramahan yang ditunjukkan  oleh Indonesia, mampu menghadirkan suasana yang nyaman dan berkesan. Saudara, keramahtamahan  perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari untuk melawan kecenderungan masyarakat modern yang cenderung individualistis. Hari ini kita akan merenungkan bagaimana sikap keramahtamahan perlu diwujudkan dalam kehidupan anak-anak Tuhan, yang mana hal itu merupakan praktek kasih dan ketaatan kepada Allah Bapa di Sorga.

Pemahaman

  • Ayat 2-5         : Bagaimana sikap Abraham ketika ada tiga orang yang berkunjung kepadanya?
  • Ayat 6-8         : Bagaimanakah cara Abraham dan Sara mempersiapkan jamuan bagi para tamu itu? Apa yang saudara pelajari dari penyambutan                                         Abraham pada para tamu yang berkunjung kepadanya?

Sikap yang diperlihatkan oleh Abraham dalam menyambut para tamunya memperlihatkan pada kita bagaimana dia dengan baik menjalankan adat istiadat timur dengan baik. Para tamu itu datang kepada  Abraham ketika waktu panas terik (ayat 1). Ketika Abraham melihat ada tiga orang berdiri di depan kemahnya, maka ia berlari menyongsong serta sujud sampai ke tanah (ayat 2). Sikap Abraham ini menunjukkan keramahannya dan penghormatannya, meskipun ia belum tahu apa-apa tentang maksud kedatangan para tamu tersebut. Bahkan dengan bersungguh-sungguh, ia menerima kehadiran orang-orang itu dan memohon agar mereka singgah di kemahnya yang dinyatakan dengan menawarkan air untuk diminum, membasuh kaki, dan beristirahat (ayat 3-4).

Penyambutan Abraham terhadap ketiga orang tersebut bukan hanya berhenti sampai di situ saja. Baik Abraham maupun istrinya penuh perhatian dan sangat sibuk dalam menjamu tamu mereka sebaik-baiknya. Sara sendirilah yang memasak dan membuat roti. Sedangkan Abraham berlari untuk mengambil lembunya, membawa susu dan dadih (ayat 6-8). Hal ini menunjukkan kerendahan hati seorang Abraham untuk mempersiapkan dan menyambut para tamunya. Meskipun ia seorang yang dipandang oleh sanak saudara maupun kerabatnya, hal itu tak membuatnya menjadi tinggi hati.

Jika dapat kita bayangkan bagaimana ketiga orang yang berjalan di terik panas di padang gurun, maka  dapat  kita melihat bagaimana kasih dan kepedulian Abraham terhadap mereka. Perbuatan kasih yang diperlihatkan Abraham menjadi sebuah pernyataan praktis akan kasih dan ketaatan-Nya terhadap Allah. Perbuatan baiknya kepada para tamu yang datang memperlihatkan bagaimana Firman itu berbuah dalam kehidupan Abraham.

Refleksi
Ingatlah sejenak komunitas dalam gereja kita saat ini: bagaimanakah sikap saudara ketika berjumpa dengan anggota baru, menyambut dengan baik atau bersikap acuh tak acuh? Sikap keramahtamahan perlu diterapkan dalam kehidupan orang beriman di manapun mereka berada, sebagai bentuk praktek kasih dan ketaatan kepada Bapa di Sorga.

Tekad
Tuhan, ampunilah bila selama ini aku terlalu bertindak individualistis dan bersikap acuh tak acuh terhadap orang-orang di sekitarku. Ajarku untuk membuka hati dan menerima keberadaan mereka.

Tindakan
Aku akan meluangkan waktu untuk memberikan perhatian kepada anggota yang baru bergabung di gereja (bisa melalui media sosial maupun berkunjung ke rumahnya jika saudara tahu alamat rumah yang bersangkutan)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«