suplemenGKI.com

TANTANGAN KEHAMBAAN

2 Samuel 7:1-13

 

PENGANTAR
Berfikir logis merupakan proses pengambilan keputusan secara akal berdasarkan keadaan yang terjadi, lalu dihubungkan dengan kesanggupan diri mampu melakukannya atau tidak.  Misalnya, saya pasti bisa mengangkat tiga ember air sekaligus, karena biasa melakukannya.  Sebaliknya, saya tidak bisa mengangkat tiga ember air sekaligus, karena belum pernah melakukannya, apalagi badan saya tidak begitu berotot.  Berfikir logis sebagai salah satu tanda kedewasaan pribadi merupakan kemampuan yang sangat diperlukan, sebab banyak pilihan dalam hidup perlu diselesaikan secara logis dan wajar.  Bacaan hari ini mengajak kita melihat pergumulan Daud yang secara logis hendak membangun Bait Allah.   Apa hubungannya dengan kehambaan?  Mari kita renungkan!

PEMAHAMAN

  • Bagaimana situasi keamanan kerajaan Israel ketika Daud memerintah? (ayat 1)
  • Apa yang kemudian Daud usulkan berkenaan dengan Bait Allah? (ayat 2)
  • Bagaimana respons Nabi Natan berkaitan dengan hal itu? (ayat 3)

Siapapun pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya.  Wajar pula bila apa yang baik itu diharapkan menjadi kebaikan bagi lingkungannya.  Hal yang sama juga dialami dan dipikirkan Daud.  Minimal ada dua kondisi baik yang mendasari proses berfikir secara logis dalam diri Daud, yaitu sebagai raja yang tidak lagi berperang (telah berhasil menang, sehat dan selamat) dan keamanan negeri yang diyakini sebagai karunia Tuhan. Wajar bila Daud berkeinginan membangun Bait Allah di masanya. Daud menyampaikan keinginan tersebut kepada nabi Natan sebagai wakil Allah bagi umat Israel.  Nabi Natan mengijinkan sebab dia juga menyakini penyertaan Allah bagi Daud. 

Sampai disini tidak ada hal yang salah.  Sepenuhnya  bisa diterima secara logis dan wajar.  Apalagi Daud pasti yakin mampu mewujudkan keinginannya.  Pertanyaannya, logis bagi siapa:  manusia atau Allah?  Namun justru di sinilah tantangan kehambaan yang dihadapi Daud, menuruti apa yang dia mau menurut kesanggupannya atau menaati kehendak Allah sebagaimana difirmankan melalui Nabi Natan (ayat 4-11)? Jelas tidak mudah bagi Daud,  sebab segala keadaan serba mungkin untuk melakukannya.  Tapi ternyata tidak demikian bagi Tuhan (ayat 4-11).  Logis bagi Daud, tetapi Tuhan mempunyai logika dan cara kerja sendiri.

Bayangkan kita berada di posisi Daud, pasti tidak mudah! Apalagi tujuannya sama, membangun Bait Allah, namun Tuhan menunjuk orang lain sebagai pelaksana (ayat 12).  Tantangan kehambaan adalah meletakkan ego, ambisi, persepsi dan kesadaran tentang siapa diri kita kepada kehendak Tuhan.  Berapa banyak di antara kita yang seolah melibatkan Tuhan, tapi sebenarnya melaksanakan agenda pribadi?  Ambisi diri menjadi tuan, bukan kehendak Tuhan.  Berfikir logis itu perlu, namun harus melibatkan Tuhan dan harus dibarengi dengan kerendahan hati serta kepasrahan diri bahwa Tuhanlah yang dipermuliakan, bukan diri sendiri.  

REFLEKSI
Mari kita merenungkan: kehambaan diri kita diuji melalui kesediaan diri melepas ambisi pribadi dan belajar fokus melaksanakan apa yang Tuhan mau kerjakan di dalam kehidupan.  Dalam masa Adven ini, mari belajar menjadi hamba yang menomorsatukan kehendak Tuhan, bukan kehendak pribadi.  Sebab Tuhanlah yang menjadi Tuan atas hidup, sementara kita hanyalah hamba. 

TEKADKU
Ya Tuhan, mampukan aku menjadi hamba yang bersedia melepas kehendak dan ambisi diri.  Tolonglah tekadku untuk melaksanakan apa yang menjadi kehendak-Mu, lebih dari kehendak diriku sebagai pribadi.

TINDAKANKU
Aku mau belajar mengerjakan bagianku yang terbaik, tetapi terbuka akan kehendak Tuhan dalam pelayanan dan kehidupanku

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*