suplemenGKI.com

Senin, 13 Juni 2016.

12/06/2016

Bacaan : 1 Raja-raja 19 : 1 – 4.

Thema : “Ketika ancaman datang”.

 

PENGANTAR.
Kemenangan nabi Elia  di gunung Karmel melawan nabi-nabi baal, merupakan bukti nyata bahwa Tuhan Allah yang disembah oleh nabi Elia adalah Allah Yang Maha kuasa. Umat Israel yang menyaksikan hal itu dapat diyakinkan iman mereka agar hanya beribadah kepada Tuhan saja. Harapan nabi Elia melalui peristiwa di gunung Karmel adalah bahwa bangsa Israel akan mengalami pembaharuan rohani. Namun apakah harapan nabi Elia akan menjadi kenyataan ? Renungan kita hari ini akan menjawabnya.

PEMAHAMAN.

  1. Bagaimana respon Izebel mendengar berita kekalahan nabi-nabi baal melawan Elia  dan apa yang dilakukan Elia terhadap nabi-nabi baal ? ( ayat 1-2 ).
  2. Bagaimana respon nabi Elia mendengar ancaman Izebel ? ( ayat 3 )
  3. Bagaimana Elia mengadu kepada Tuhan ? ( ayat 4 )

Raja Ahab menyaksikan peristiwa luar biasa di gunung Karmel. Sebagai seorang raja yang berkuasa atas Israel sebenarnya Ahab memiliki wewenang membawa rakyatnya kembali kepada Tuhan Allah yang hidup. Namun Ahab yang lemah pendiriannya, oleh karena tidak berbakti kepada Tuhan Allah yang hidup, ia tidak mampu melawan pengaruh Izebel. Setibanya dirumah raja Ahab menceritakan semua peristiwa di gunung Karmel, termasuk pembunuhan nabi-nabi baal kepada Izebel. Mendengar cerita tersebut Izebel murka dan mengancam nabi Elia. Kemudian Izebel menyuruh seorang suruhan menyampaikan pesan kepada nabi Elia demikian, “Jika besok kira-kira aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu”.

Mendengar bahwa ancaman Izebel tidak main-main, maka Elia menjadi ketakutan. Mula-mula nabi Elia merasa keadaan kelihatan indah namun ketika menghadapi ancaman seakan-akan ia menemui kegagalan. Kini ia tidak dapat berbuat apa-apa selain melarikan diri dari ancaman Izebel. Ia lari ke selatan melalui Yehuda , dan sampailah Bersyeba, lalu meneruskan perjalanannya ke padang gurun. Ia sangat putus asa lalu duduk dibawah pohon arar. Dalam keputusasaannya ia ingin mati dan berdoa kepada Tuhan, “Cukuplah itu ! sekarang ya Tuhan ambillah nyawaku”.

Siapapun bisa takut menghadapi ancaman, termasuk nabi sekaliber Elia. Melarikan diri untuk menyelamatkan diri dari bahaya bisa juga sebagai upaya yang baik. Bahkan keputusasaan yang terjadi merupakan hal yang normal secara manusia. Namun dibalik semuanya itu yang harus disadari adalah bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan hambaNya. Itulah yang harus kita yakini bahwa Tuhan beserta kita. Amin.

REFLEKSI.
Renungkanlah : Apakah saudara pernah menghadapi ancaman ? situasi buruk ? apakah saudara merasa ditinggalkan Tuhan ?

TEKADKU.
Ya Tuhan, saya percaya bahwa dalam situasi apapun yang saya alami, Engkau tidak pernah meninggalkan kami.

TINDAKANKU.
Saya harus tetap kuat ketika menghadapi tantangan dan ancaman.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*