suplemenGKI.com

DASAR PANGGILAN

Yesaya 49:1-5

 

PENGANTAR
Tiap orang pasti mempunyai keyakinan mampu melakukan sesuatu.  Persoalannya, bukan hanya soal mampu tidaknya seseorang mewujudkan keyakinannya; tapi motivasi seperti apa yang mendasari keyakinan seseorang melakukan sesuatu.  Kebenaran inilah yang hendak kita renungkan dari bacaan hari ini. 

PEMAHAMAN

  • Apa yang Yesaya yakini tentang karya Tuhan dalam hidupnya? (ayat 1, 5)
  • Tindakan Allah seperti apa yang Yesaya wartakan? (ayat 1-2)
  • Apa tujuan pemanggilan Yesaya sebagai nabi? (ayat 3, 5)
  • Apa yang Allah jaminkan dalam hidup Yesaya? (ayat 4)

Pada saat Yesaya mulai bekerja, Israel sedang berada di ambang kehancuran.  Dalam tahun 722 SM Kerajaan Utara dengan kesepuluh sukunya dikalahkan bangsa Asyur (2 Raja-raja 17).  Dan Kerajaan Selatan, yaitu Yehuda, sedang menuju nasib yang sama.  Secara sosial, politis dan iman; Israel sudah sangat terpuruk.  Kerajaan Utara telah dihukum dan musnah.  Semua itu Allah ijinkan agar Israel belajar mendengar dan mengikuti perintah Allah.  Allah memanggil Yesaya untuk menyampaikan janji-Nya bagi Israel dan mengajak mereka hanya menyembah-Nya.

Dalam menjalankan tugasnya di tengah-tengah Israel, Yesaya berpegang pada keyakinan yang menjadi dasar panggilannya.  Bukan ambisi atau tujuan pribadi.  Yesaya meyakini rancangan terbaik Tuhan dalam hidupnya yang sejak “dari kandungan” (ayat 1) memanggilnya menjadi “hamba-Nya” (ayat 5).  Keyakinan panggilan inilah yang membuatnya menghayati penugasannya sebagai “pedang tajam” dan “anak panah yang runcing” bagi Israel (ayat 2).  Bahkan Yesaya juga menyadari jalan hidupnya bakal “bersusah-susah . . . dan telah menghabiskan kekuatanku” (ayat 4).  Yesaya pasti gentar apalagi dia sudah berkeluarga.  Namun Yesaya tidak mundur sebab Allah sudah “membentuknya” (ayat 5), maka ia selalu berpegang pada janji penyertaan dan pada perlindungan “dalam naungan tangan-Nya” (ayat 2).

Pelayanan sebagai bagian dari kehidupan, juga tidak selamanya lurus dan tanpa persoalan.  Dimanapun dan kapanpun, persoalan akan menjadi bagian dari pelayanan itu sendiri.  Mundur atau tidak ditentukan dari apa yang menjadi dasar pelayanannya.  Bila yang menjadi dasar panggilan adalah hal-hal yang bersifat manusiawi seperti kekecewaan, kebutuhan akan perhatian, kenyamanan, pujian, pengakuan atau juga pendapatan; semua itu akan berujung pada penyesalan dan kesia-siaan.  Pelayanan adalah pekerjaan Allah sendiri, maka panggilan dari Sang Pemilik ladang pelayanan hendaknya menjadi dasar utama yang memampukan setiap hamba-Nya memberi yang terbaik dalam kesetiaan.  Mari membangun pelayanan dan hidup di atas dasar panggilan Allah.

REFLEKSI
Mari merenungkan: pelayanan adalah milik Allah, maka panggilan dari Sang Pemilik hendaknya menjadi dasar utama yang memampukan setiap hamba-Nya memberi yang terbaik dalam kesetiaan. 

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu.  Mampukan aku untuk  terus setia bertumbuh dalam semangat dan ketekunan melayani, apapun tantangannya.  Tolong aku untuk tetap mendasarkan pelayanan pada panggilan-Mu yang mulia. 

TINDAKANKU
Walaupun ada tantangan dan kesulitan, tidak ada pujian dan penghormatan; aku tidak mundur mengerjakan tugas pelayanan sebab aku mau mempersembahkan hidup di dalam panggilan-Mu yang mulia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«