suplemenGKI.com

Amsal 9:1-18

 

Hikmat atau Kebodohan

 

Hidup adalah sebuah pilihan. Sepanjang kehidupan kita tak henti-hentinya harus memilih. Memilih cara hidup,  cara berpikir, cara bersikap, cara bertindak dan sebagainya. Namun pada intinya ada dua pilihan utama menurut penulis Amsal, yaitu berupaya menjadi orang yang berhikmat atau membiarkan diri menjadi orang bebal. Pertanyaan-pertanyaan berikut akan memandu kita untuk merenungkan kebenaran Firman Tuhan yang diungkapkan dalam bagian Amsal ini.

- Apa yang dilakukan oleh hikmat? (ayat 1-3)

- Siapa yang diundang oleh hikmat serta apa yang ditawarkan dan diajarkannya? (ayat 4-6)

- Apakah perbedaan antara seorang pencemooh dan seorang bijak atas didikan, teguran dan nasihat? (ayat 7-9)

- Dari mana awal mula hikmat dapat kita peroleh? (ayat 10)

- Apa “buah” bagi orang yang memilih hikmat? (ayat 11-12)

- Dengan apa kebodohan diilustrasikan dan apa akibatnya jika kita memilih kebodohan? (ayat 13-18)
Renungan
Sungguh menarik cara penulis Amsal mengandaikan hikmat seperti seorang yang sedang mendirikan rumahnya dan menegakkan ketujuh tiangnya (biasanya empat tiang di setiap sudut dan tiga tiang di setiap tengah ketiga sisi sehingga meninggalkan satu sisi untuk pintu masuk utama). Beberapa penafsir mengartikan rumah yang dibangun adalah komunitas orang percaya atau gerejaNya.

Rupanya ia sedang menyiapkan sebuah pesta penyambutan. Diundangnya semua orang yang merasa kurang berpengalaman, yaitu yang rendah hati dan mau terus belajar, untuk datang ke rumah Tuhan. Kita yang datang memenuhi undangannya disuguhinya roti dan anggur pilihan serta diajaknya untuk membuang kebodohan. Bukankah di gereja kita bisa memperoleh makanan rohani yakni Firman Tuhan yang akan membuat kita bijak dan mampu membuang segala kebebalan.

Tak kalah menarik untuk memahami betapa respons orang terhadap tawaran hikmat bisa berbeda. Si pencemooh tak menyukai bahkan menolak didikan dan teguran. Tetapi orang yang bijak akan dengan senang hati belajar dari berbagai nasihat bahkan kritik yang pedas sekalipun. Sebagai “puncak” nya penulis Amsal ingin mengingatkan kita semua, bahwa hikmat ilahi (untuk membedakan dengan hikmat dunia) hanya bisa kita mulai peroleh apabila kita memiliki sikap hati yang “takut akan Tuhan” (ayat 10).

Bagi yang memilih untuk menerima undangan hikmat, maka hidupnya akan diberkati sedangkan bagi yang lebih memilih undangan kebodohan akan menanggung sendiri segala akibatnya. Mana yang kita pilih akan sangat menentukan masa depan kita. Berhati-hatilah sebab kebodohan juga bisa membuat undangan yang tak kalah menariknya. Buatlah pilihan yang tepat dengan hanya memilih undangan Sang Hikmat dan menolak undangan kebodohan.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«