suplemenGKI.com

Senin, 12 Maret 2012

10/03/2012
Why Me

Why Me

Bilangan 21:4-5

Pertanyaan Manusia

 

Perjalanan bangsa Israel menuju tanah Kanaan merupakan perjalanan yang tidak mudah.  Ada banyak ujian hidup yang musti dilewati bangsa Israel, yang menuntut kesetiaan kepada Allah.  Salah satunya melalui kisah tentang ular tembaga.

Pertanyaan Penuntun Pemahaman Alkitab:

  1. Kemanakah tujuan perjalanan bangsa Israel dalam bacaan ini?  (ay. 4)
  2. Bagaimana situasi hati bangsa Israel dalam perjalanan tersebut?  (ay. 4)
  3. Apa yang kemudian mereka lakukan?  (ay. 5)
  4. Tuduhan apakah yang bangsa Israel sampaikan kepada Musa? (ay. 5)

 

RENUNGAN

Manusia adalah mahluk yang bertanya.  Ia selalu bertanya.  Apa pun yang berhadapan dengannya dipertanyakannya.  Mengapa manusia selalu bertanya?  Sebab dengan bertanya manusia akan menjadi tahu dan semakin tahu lebih lanjut.  Maka bertanya menjadi jalan bagi manusia untuk menemukan sumber pengetahuan bagi dirinya.  Persoalannya, tidak selamanya pertanyaan yang diajukan manusia sebagai wujud keinginannya untuk tahu.  Dengan kata lain, pertanyaan tersebut bersifat tuduhan sebab didasarkan pada sikap yang tidak lagi percaya.  Tepatnya menolak untuk mempercayai.  Contohnya, pertanyaan yang diajukan bangsa Israel, “mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini?” (ayat 4).  Pertanyaan ini merefleksikan hati bangsa Israel yang tidak lagi mempercayai Allah dan rencanaNya.

Dari awal, Allah telah secara jelas menyampaikan rencana pembebasan dan keselamatan umatNya melalui Musa.  Allah melalui Musa berkehendak membebaskan dan mengembalikan Israel ke tanah perjanjian, Kanaan.  Tidak ada orang Israel yang tidak mengetahui rencana tersebut. Rangkaian tulah yang dijatuhkan kepada Mesir secara gamblang mengajarkan bahwa Allah ada dan berkuasa atas kehidupan.   Allah serius dengan rencanaNya.  Tapi meskipun beragam pengalaman mujizat telah mereka alami.  Bangsa Israel secara sadar masih suka memilih jalannya sendiri.  Dalam konteks bacaan ini, bangsa Israel  “berkata-kata melawan Allah dan Musa” serta menuduh bahwa, “di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.”  Pernyataan bangsa Israel ini menunjukkan sikap hati yang mengabaikan karya Allah di sepanjang perjalanan yang telah mereka lewati sebelumnya.  Seolah semua kebaikan Allah lenyap dan tidak diingat lagi.  Ironinya, hanya karena  masalah perut, bangsa Israel mengeluh dan tidak lagi mempercayai Allah dan Musa.

Kehidupan manusia, termasuk orang percaya, ibarat perjalanan bangsa Israel menuju Kanaan.  Ada suka dan duka.  Ada pula tawa bahagia dan tangis derita.  Yang di dalam semua pengalaman itu, manusia menjadi bertanya mengapa dan untuk apa semua itu terjadi.  Mengajukan pertanyaan adalah sah.  Sebab salah satu ciri kemanusiaan manusia adalah ketika manusia berani mengajukan pertanyaan untuk  mengakhiri ketidaktahuannya.  Namun perlu disadari bahwa tidak untuk setiap pertanyaan tersedia jawaban.  Bila itu yang terjadi, bukan berarti Allah salah dan harus bertanggung jawab atas kehidupan kita.  Bila manusia tidak mengerti atas peristiwa yang sedang terjadi, bukan berarti bermakna Allah salah dan dapat dipersalahkan.   Pertanyaan seharusnya menjadi sarana bagi manusia untuk makin mengalami Allah dalam hidupnya.  Melalui pertanyaan manusia didorong untuk lebih  mendalami hidup dan kemudian menemukan makna indah yang membuatnya makin dewasa.  Sekalipun tidak tersedia jawaban, dengan tetap bertanya, manusia akan terus disadarkan akan  keterbatasan dirinya di hadapan Allah yang berkuasa.

 

Bertumbuhlah dalam Allah melalui pertanyaan yang engkau ajukan kepadaNya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«