suplemenGKI.com

Senin, 12 Juli 2021

11/07/2021

JANJI KESELAMATAN

Yeremia 23:1-6

 

PENGANTAR
Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan “janji” sebagai “ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (sesuai dengan yang dijanjikan)”.  Jadi bukan hanya menyampaikan sesuatu tapi benar-benar mewujudkannya.  Kebenaran tentang janji ini tercermin melalui bacaan Firman Tuhan yang disampaikan Yeremia kepada Yehuda.  Janji seperti apa yang Allah sampaikan kepada umat-Nya di masa lalu dan masa kini?  Mari kita merenungkan bersama!

PEMAHAMAN

  • Mengapa Allah dengan keras menegur para gembala? (ayat 1, 2)
  • Apa yang Allah janjikan melalui Yeremia? (ayat 3, 4)
  • Apakah wujud janji keselamatan Allah dalam diri kita itu hanya untuk diyakini?

Gembala dalam Perjanjian Lama adalah raja dan kelompok orang yang memimpin atau yang memiliki pengaruh dalam masyarakat, termasuk para pemimpin agama.  Dalam menjalankan tugas dan kewenangannya, mereka adalah kelompok yang sangat rentan dengan godaan kekuasaan, uang dan hal-hal duniawi lainnya.  Akibatnya, mereka seringkali lalai dan membiarkan kambing domba terserak dan tersesat tanpa penggembalaan yang baik.  Bahkan menggiring kambing domba gembalaan menjalani hidup yang sesat dan tercela di hadapan Allah.

Melihat kenyataan hidup para pemimpin umat-Nya saat itu, maka Allah marah dan tidak lagi mempercayai para pemimpin yang tidak bertanggungjawab (ayat 3-4).  Allah menegur dengan keras (ayat 1) dan kemudian mengambil alih peran para ‘gembala’ itu.  Allah sendiri akan turun tangan mengumpulkan “kambing domba”, yakni umat-Nya yang sudah tercerai-berai, serta memimpin mereka kembali ke padang (ayat 3).  Tidak ada lagi “takut”, “terkejut” dan “hilang”, demikianlah janji Allah (ayat 4).  Allah menjanjikan Tunas Adil yang akan “memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran” (ayat 5). Umat Allah akan “hidup dengan tentram” (ayat 6).

Bagi orang Yahudi, janji Allah itu memberi pengharapan akan datangnya Sang Mesias yang akan membawa pembebasan dan pemulihan bagi bangsanya.  Bagi orang percaya hari ini, janji Allah tersebut digenapi di dalam diri Yesus Kristus yang adalah keturunan Daud (Mat. 1:16, 17).  Sebab pemulihan Yehuda dan pengharapan mesianis Yahudi cenderung bermakna jasmani (sosial politik);  sedangkan karya Kristus menebus dan menyelamatkan orang percaya.  Wujud janji keselamatan Allah bukan berkenaan dengan pulihnya kewilayahan suatu negara, tetapi berbaliknya umat manusia sebagai respons atas karya keselamatan Allah di dalam diri Yesus Kristus.   Kebenaran janji ini dikerjakan Allah sendiri yang berkenan menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh. 1:14; Fil. 2:7).  Janji keselamatan Allah ini layak diyakini dan terus digemakan melalui karya kehidupan kita yang mewartakan keselamatan di dalam diri Yesus Kristus.

REFLEKSI
Mari merenungkan: Sesungguhnya wujud janji keselamatan Allah dalam hidup kita bukan hanya untuk diyakini, tetapi untuk dinyatakan bagi sesama.  Melalui karya kehidupan yang Tuhan percayakan,  mari menggunakan kesempatan mewartakan keselamatan Allah di dalam diri Yesus Kristus itu bagi siapapun di sekitar kita. 

TEKADKU
Tuhan, terimakasih untuk keselamatan di dalam Kristus yang Engkau nyatakan dalam hidup kami.  Tolonglah agar kami mampu menggemakan keselamatan melalui karya kehidupan yang memberkati sesama dalam tindakan nyata. 

TINDAKANKU
Hari ini aku mau memikirkan satu tindakan nyata bagi saudara, teman atau tetangga yang sedang bergumul karena kelemahan tubuhnya atau sedang sakit.  Agar mereka merasakan kasih Tuhan yang nyata.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«