suplemenGKI.com

KETEGASAN ALLAH

Kejadian 9:8-11

 

PENGANTAR
Menurut KBBI, ‘tegas’ artinya tindakan yang jelas, tidak mudah tergoyahkan dan pasti (tidak ragu-ragu atau samar-samar).  Dalam hidup sehari-hari, baik anak-anak maupun orang dewasa sulit menerima begitu saja ‘ketegasan’ yang diterapkan baik dalam lingkup pekerjaan, kehidupan bergereja/pelayanan, sekolah maupun dalam keluarga.  Tidak jarang seseorang bisa tersinggung, sakit hati, ngambeg, protes keras atau mencoba bertahan tetapi bersungut-sungut dan tidak ada sukacita karena adanya ketegasan yg diterapkan.  Hal itu terjadi karena ‘ketegasan’ dipandang dan dimengerti secara tidak utuh; tidak mencoba dicerna, diolah dan dimaknai apa tujuan dari ketegasan itu.  Pernahkah kita mengalaminya?  Melalui perikop yang kita baca, bagaimana Allah menyatakan ketegasan-Nya kepada umat yang sudah hidup jauh dari kehendak-Nya?  Mari kita belajar bersama!

PEMAHAMAN

  • Ayat 8-10        : Bagaimana Allah berbicara kepada Nuh tentang isi hati-Nya?
  • Ayat 11           : Bagaimana Allah menyatakan ketegasan-Nya bagi umat-Nya?
  • Pernahkah saudara mengalami ketegasan Allah?  Bagaimana sikap kita?  Apakah saudara sanggup memaknai ketegasan Allah?

Perikop yang kita baca menunjukkan manusia di bumi telah hidup jauh dari Tuhan.  Kejadian 6:11-12 menyatakan “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan.  Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi”.  Hati Allah pilu melihat keadaan manusia di bumi sebab mereka memilih hidup melenceng jauh dari kehendak dan tujuan-Nya.  Maka Allah berfirman kepada kepada Nuh “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi” (Kej.6:13 bdk Kej.9:11).

Kata Ibrani yang dipakai untuk ‘rusak’ adalah ‘sahat’ artinya corrupt: bejat, mencemarkan.  Sedangkan ‘memusnahkan’ arti kata Ibraninya adalah cast off: membaung.  Allah membuang yang bejat atau yang mencemarkan.  Itulah ketegasan Allah pada zaman Nuh.  Hal itu dilakukan sebab Dia ingin mengembalikan ciptaan-Nya sesuai tujuan-Nya.  Keputusan Allah untuk memberikan penghukuman yang final yaitu memusnahkan penghuni bumi dan segala isinya melalui air bah, kecuali Nuh dan keluarganya, karena Allah hendak ‘memperbaharui’ bumi ciptaan-Nya yang pada awalnya baik dan kemudian dirusak manusia.  Ketegasan Allah kepada umat manusia dalam bentuk ‘memusnahkan’ sebenarnya memiliki tujuan yang berdampak mulia, yaitu Dia memperbaharui dan memulihkan yang rusak itu kembali menjadi baik & benar.

REFLEKSI
Mari merenungkan: ketegasan Allah dalam hidup sangat berharga sebab ketegasan-Nya memiliki tujuan yang mulia untuk ‘memperbaharui’ yang sudah rusak menjadi baik dan benar.  Maka, seharusnya sikap kita adalah memaknai setiap ketegasan Allah dalam hidup.

TEKADKU
Tuhan Yesus buat aku mengerti makna ketegasan-Mu (disiplin-Mu, peringatan-Mu) dalam hidupku, sebab Engkau memiliki tujuan untuk memperbaharui dan memulihkan bagian yang rusak dan cemar dalam hidupku.

TINDAKANKU
Aku mau menyerahkan karakterku (sikap dan perbuatanku) yang rusak dan cemar pada ketegasan Tuhan agar terus diperbaharui menjadi lebih baik seperti tujuan-Nya menghadirkan aku di dunia.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*