suplemenGKI.com

Kejadian 32:22-24

MENANGGUNG AKIBAT KESALAHAN

Perikop ini menceritakan perjalanan Yakub yang ingin kembali ke tanah kelahirannya yaitu Kanaan.  Namun bagi Yakub masih terbayang persoalan yang belum selesai di masa lalunya dengan Esau.  Ketika Yakub pergi atau lari ke rumah Laban, kepergiannya meninggalkan kemarahan dalam diri Esau.

  • Bagaimana Yakub mengatasi ketakutan (rasa bersalah) akibat kesalahannya? (ay. 22-23)
  • Apakah Yakub tergolong orang yang berani menanggung akibat dari kesalahannya?
  • Apa yang anda lakukan ketika saudara melakukan kesalahan?
  • Beranikah saudara meminta maaf kepada orang lain ketika melakukan kesalahan?

RENUNGAN

Yakub adalah pribadi yang cerdik.  Namun kecerdikannya seringkali untuk melakukan hal-hal yang menguntungkan diri sendiri (memuaskan egonya).  Kecerdikannya menipu Esau, kakaknya, berbuntut panjang.  Dia lari ke rumah Laban, pamannya dan kemudian memperoleh istri, anak dan segala ternak.  Yakub menjadi kaya raya.  Tetapi kepergiannya ke rumah Laban meninggalkan dendam dalam diri Esau.  Yakub tahu persis itu.  Sekarang, Yakub ingin kembali pulang ke Kanaan sebagai tanah kelahirannya.  Namun masalahnya, Yakub belum tahu persis bagaimana reaksi Esau ketika bertemu dengan dia.  Apakah masih dendam ataukah sudah mengampuni?  Telah kurang lebih 40 tahun Yakub dan Esau tidak bertemu (Kej. 31:41), namun sepanjang itu pula Yakub membawa rasa bersalah akibat perbuatan yang mementingkan diri sendiri.  Yakub kemudian mengatur barisan dengan membagi orang-orang yang mengikutinya dan segala ternaknya.  Pasukan dan ternaknya ditempatkan di barisan depan, dia sendiri berada di belakang supaya dia lari terlebih dulu kalau Esau masih dendam dan menyerangnya.

Dikisahkan bahwa Yakub mengantar istri, anak, pasukan dan segala ternaknya menyeberang sungai Yabok tetapi dia sendiri kembali ke kemahnya tidak mengikuti perjalanan panjang itu.  Yakub benar-benar mengalami ketakutan  terhadap Esau.  Yakub takut menghadapi akibat dari kesalahannya di masa lalu.  Dia mengatasi rasa takut dan rasa bersalah akibat kesalahannya dengan cara: pertama,  membagi pasukan menjadi dua bagian agar ketika salah satu pasukan itu diserang Esau masih ada pasukan lain yang membela dan melindunginya.  Kedua, menyuruh pasukannya dibarisan depan sedangkan dia di belakang agar ketika Esau menyerang dia dapat terlebih dulu lari.  Ketiga, meredamkan kemarahan Esau dengan memberi harta yang dimilikinya, bukan dengan datang untuk meminta maaf.

Dalam kehidupan ini kita tidak terluput dari kesalahan.  Pasti kita pernah melakukan kesalahan.  Dan kesalahan yang kita perbuat itu pasti menimbulkan akibat yang harus kita hadapi.  Bagaimana kita menyelesaikannya?  Ketika kita datang kepada Tuhan untuk meminta pengampunanNya, Dia pasti mengampuni.  Dengan anugrah pengampunan yang Tuhan berikan, sebagai orang percaya kita dimampukan untuk dapat menghadapi akibat dari kesalahan yang kita lakukan.  Seharusnyalah kita juga berani datang meminta maaf kepada orang-orang yang terkait dengan tindakan atau perbuatan yang kita lakukan.  Hal itu membawa kita terlepas dari rasa takut dan rasa bersalah yang berkelanjutan.  Agar perjalanan hidup kita menjadi damai sejahtera sebab kita sudah hidup dalam pengampunan.

Anugerah pengampunan yang Tuhan berikan memampukan kita berani meminta maaf kepada orang lain ketika kita melakukan kesalahan agar hidup kita sejahtera.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«