suplemenGKI.com

Kejadian 45:1-15

MENGAMPUNI = DIMERDEKAKAN

 

Pengantar
Jujur, mengampuni bukan perkara yang mudah dilakukan!  Bukan sekadar berkaitan dengan apa yang telah terjadi, tetapi juga berhubungan dengan pelaku yang menyebabkan peristiwa tertentu terjadi.  Demikian juga dengan pengalaman Yusuf dalam perikop ini.  Mengapa Yusuf ‘mampu’ melakukan perkara (mengampuni) yang sulit tersebut?  Mari kita belajar dari perikop ini.

Pemahaman
Ayat 1-2: Mengapa Yusuf meminta waktu untuk bersama saudara-saudaranya saja?  Dan   bagaimana bagian ini mengungkapkan perasaan Yusuf?  Mengapa sampai seperti itu ekspresi perasaannya?

Ayat 3-4: Apa yang Yusuf lakukan dan katakan tentang dirinya?

Ayat 5-8: Bagaimana Yusuf menjelaskan Allah dalam hubungannya dengan pengalaman dirinya?

Apakah saat ini kita sedang bergumul dalam hal mengampuni?

Bagi saya ada dua kemungkinan yang mendorong Yusuf menangis.  Pertama, terharu karena akhirnya bisa berjumpa dengan saudara-saudaranya, khususnya Benyamin yang lahir dari ibu yang sama dengannya (ay.14).  Tapi apakah semudah itu Yusuf melupakan perbuatan kakak-kakaknya?  Untuk melupakan, pastinya tidak.  Namun bukan berarti Yusuf dendam dan sengaja menyimpan rasa balas dendamnya.  Kemungkinan kedua yang menjadi penentunya, yaitu Yusuf terharu melihat karya Allah yang menyempurnakan proses pemulihan diri yang sudah lebih dulu terjadi dalam hidupnya.   Yusuf takjub dengan perkenan Allah yang bukan hanya memulihkan dirinya, tapi juga dalam relasi dengan kakak-kakaknya. Artinya, bagi Yusuf bukan hal yang mudah untuk mengampuni.  Tapi karena Yusuf telah melewati masa-masa yang sulit, maka sekarang untuk mengampuni kakak-kakaknya menjadi lebih mudah dilakukan.  Apa itu masa yang sulit?

Pasal 41 memuat pengakuan Yusuf terkait dengan apa yang ia alami dulu,  “kesukaran” (ay.51) dan “kesengsaraanku” (ay.52).  Dengan kata lain, Yusuf pernah bergumul menerima diri dan saudara-saudaranya, termasuk mungkin mempertanyakan keberadaan Allah di masa sulit itu.  Siapapun pasti akan marah dan kecewa bila berada di posisi Yusuf.  Apalagi untuk mengampuni, jelas tidak mungkin.  Namun, Yusuf tidak membiarkan semua perasaan itu membelenggunya.  Frasa “Allah telah membuat aku lupa” (ay.51) dan “Allah membuat aku mendapat” (ay.52) menunjukkan adanya proses pada diri Yusuf. Pada rentang waktu inilah, Yusuf mampu menemukan dirinya kembali dalam pelukan kasih Allah yang mengobati luka hati, mengampuni diri dan memulihkan semangat hidupnya.  Pada akhirnya, kemerdekaan dari masa lalu, juga telah memampukan Yusuf untuk berdiri dalam pengampunan di hadapan saudara-saudaranya (ay.14, 15).  Kemerdekaan hidup dalam pengampunan seperti yang dialami Yusuf, sesungguhnya juga bisa anda alami hari ini.  Mengakui masa lalu, baik peristiwa dan segenap perasaan yang muncul ketika itu, akan menjadi pintu masuk proses pemulihan yang Allah kerjakan dalam hidup saudara.  Ijinkan Allah berproses bersama anda, maka anda akan tampil sebagai pribadi yang dimerdekakan dari trauma masa lalu.

 

Refleksi
Mengampuni masa lalu menjadi kunci masa kini menjalani kehidupan yang penuh makna.

 

Tekadku
Aku mau merdeka sesulit apapun masa laluku.

 

Tindakanku
Aku mau datang kepada Tuhan di dalam pengakuan, sehingga kemerdekaan di dalam pengampunan-Nya dapat aku rasakan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«