suplemenGKI.com

Yesaya 50:1-3

 

“Israel Ragu Akan Janji Tuhan”

Pengantar:
Suatu hari seorang bapak yang berprofesi sebagai tukang tambal ban ditelepon oleh sebuah bank tempat ia menabung. Inti dari telepon tersebut adalah memberitahukan bahwa bapak tersebut mendapat hadiah undian berupa sebuah mesin untuk menambal ban. Sang bapak tersebut sangat gembira dan berharap sehingga saat itu juga ia menceritakan kepada istrinya dan ingin segera berangkat menuju ke bank tersebut. Tetapi sang istri tidak begitu saja percaya dengan cerita suaminya, sehingga ia segera menelpon pihak bank tersebut. Di ujung telepon sang istripun mendapatkan penjelasan seperti yang diceritakan oleh suaminya. Singkat cerita, hari itu juga suami-istri tersebut mempersiapkan segala persyaratan untuk mengambil hadiah tersebut. Ternyata benar bahwa mereka adalah salah satu nasabah yang berhak mendapat hadiah dari bank tersebut. Kisah di atas mengingatkan kita bahwa tidak semua hal harus membuat kita ragu, terutama janji Tuhan tidak boleh kita ragukan.

Pemahaman:

  1. Bagaimanakah latar belakang Israel, sehingga mereka harus dibuang ke Babel? (v. 1)
  2. Bagaimanakah sikap bangsa Israel terhadap janji Tuhan? (v. 2a)
  3. Bagaimanakah Tuhan meyakinkan Israel tentang diri-Nya? (v. 2-3)

Sejak awal hukuman demi hukuman harus dialami oleh bangsa Israel adalah akibat dari kesalahan mereka sendiri, termasuk ketika mereka harus dibuang ke Babel. Ayat 1 adalah sebuah ilustrasi tentang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan sehingga mereka harus dibuang ke Babel. Seorang suami tentu tidak akan sesukanya memberikan surat cerai kepada istrinya apabila istrinya berlaku baik dan tidak melakukan kesalahan yang fatal, demikian juga si penagih hutang tidak mungkin melakukan hal-hal yang tidak wajar manakala si kreditur taat melakukan kewajiban membayar hutang dengan teratur. Satu-satunya alasan mengapa Israel harus dihukum di Babel adalah karena kesalahan mereka sendiri, itu pulalah yang membuat mereka ragu akan janji Tuhan. Namun Allah yang penuh kasih memberikan kesempatan kedua kepada Israel untuk dipulihkan. Ungkapan dalam Yesaya 49:14-16 menunjukkan bahwa sekalipun Israel telah berlaku salah terhadap Tuhan, namun Tuhan tetap membuka pemulihan bagi mereka. Ironisnya Israel justru meragukan inisiatif Allah itu, sehingga mereka tidak meresponi inisiatif Allah. Hal itu tergambar dari pernyataan Allah dalam ayat 2-3. Mengapa Israel meragukan inisiatif pemulihan Allah, karena mereka mengukur kasih Allah dengan kesalahan mereka sendiri.

Refleksi:
Mari kita merenung sejenak. Apakah yang sering membuat kita ragu terhadap janji pertolongan Tuhan dalam hidup kita? Apakah saudara pernah dikecewakan oleh Tuhan? Jangan pernah mengukur kasih setia Tuhan dengan keterbatasan dan kesalahan kita.

Tekad:
Ya Tuhan, ajarlah saya untuk selalu mempercayai janji-janji-Mu dalam hidup saya.

Tindakan:
Dalam segala hal saya mau belajar mempercayai janji Tuhan dalam hidup saya, sebab sesungguhnya belum pernah sekalipun Tuhan ingkar janji dalam hidup saya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*