suplemenGKI.com

Bacaan : Yesaya 50:4-9a

MEMBERI SEMANGAT BAGI YANG LETIH LESU

Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menjadi ‘murid’ yang bersedia terus menerus dididik oleh Allah.  Menjawab panggilan Allah harus disertai dengan keyakinan bahwa Allah akan melengkapi setiap kita, sehingga kita siap menghadapi segala macam tantangan hidup ketika menjalankan tugas panggilanNya.

Pertanyaan Penuntun :

  1. Apa saja yang Allah perlengkapi sehingga kita siap menjalankan tugas seorang murid?
  2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi seorang murid pada saat menjalankan tugas panggilan Allah?
  3. Apakah kita yang sudah terpanggil sebagai seorang murid, sudah mempergunakan semua perlengkapan yang Allah berikan, dengan semaksimal mungkin?

RENUNGAN

Dalam ayat yang kita baca, Yesaya sengaja menggunakan kata ganti orang pertama, “aku”. Hal ini setidaknya menunjukkan bahwa Yesaya sendiri bergumul bersama umat yang dilayaninya.  Dalam perikop ini Yesaya mengingatkan kita sekalian, bahwa bila Allah memanggil atau mengutus maka Dia yang akan melengkapi. Allah akan memberikan lidah seorang murid dan senantiasa mempertajam pendengaran dengan terus menerus membuka telinga kita.  PertolonganNya, yang senantiasa tepat pada waktunya,  memampukan kita menghadapi banyak rintangan, penderitaan maupun penghinaan, ketika melaksanakan tugas panggilanNya. Sebagai seorang murid kita dituntut untuk mempergunakan segala perlengkapan yang sudah Allah berikan dengan semaksimal mungkin. Dengan lidah seorang murid, Allah ingin kita dapat memberi semangat baru kepada orang-orang yang letih lesu lewat perkataan kita.  Dengan pendengaran yang senantiasa dipertajam, kita mau mendengar segala keluh kesah lewat pendengaran kita dan tetap meneguhkan hati, percaya pada pertolongan Allah dan tetap setia.

Panggilan Allah bukan berarti bahwa kita akan menghadapi jalan yang mulus, tetapi panggilanNya juga menuntut resiko yang berat, seorang murid akan menghadapi banyak penderitaan, menanggung cela dan noda karena Allah.  Hamba Tuhan, seperti yang ditulis dalam perikop ini, menanggung penderiaan seperti rela punggungnya dipukul, janggut dicabut, mukanya diludahi, yang menurut zaman itu, orang yang diperlakukan demikian itu artinya kehilangan muka, tidak dipandang lagi, bahkan orang itu sendiri yakin bahwa Tuhan telah meninggalkan dirinya. Tetapi dalam persekutuan yang tak putus-putus dengan Allah hamba ini sadar bahwa penderitaan yang dialaminya tidak datang dari tangan Tuhan, melainkan justru membuktikan bahwa ia benar dimata Allah, justru dalam penderitaan yang dialaminya.  Yesaya menekankan pentingnya berlatih memiliki sikap hati seorang murid dengan cara mendengarkan suara Tuhan setiap hari, dengan menjalin hubungan intim dengan Allah. Yesaya meyakini sepenuhnya bahwa kemampuan seperti di atas hanya dapat dilakukan karena kuasa Allah. Itu berarti ada relasi khusus antara hamba/murid dengan Allah yang berkuasa.  Dan akibat kemahakuasaan Allah, seorang hamba/murid sama sekali tidak mengeluh sekalipun berada pada situasi yang sulit.

Anda mungkin pernah mendapat kesempatan untuk “memberi semangat baru” kepada orang yang letih lesu, tetapi Anda merasa tidak ada mampu mengatakan.  Karena itu perlu menjalin hubungan intim dengan Allah yaitu belajar firman Allah dengan kerinduan untuk mempelajari dan melaksanakan apa yang Dia perintahkan. Sanggupkah anda menjalankannya ?

Bukalah telinga Anda untuk Allah sebelum Anda membuka mulut untuk sesama

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*