suplemenGKI.com

Senin, 10 Juni 2013.

09/06/2013

2 Samuel 11:25-27.

 

Dosa Membutakan Hati Nurani

 

Pengantar:
            Untuk mencapai keinginannya seseorang bisa melakukan apa saja. Khususnya jika keinginan itu pasti akan menguntungkannya. Dia akan menghalalkan segala cara untuk meraih yang diinginkannya, sekalipun itu melawan hukum, norma, prinsip kebenaran bahkan harus mengorbankan orang lain. Praktek menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan bagi kenikmatan diri sendiri adalah dosa yang membutakan hati nurani terhadap belaskasihan kepada sesama.

Pemahaman:

  1. Apa yang melatarbelakangi tindakan Daud sehingga tega mengorbankan Uria? (v.16)
  2. Apa makna pernyataan Daud terkait dengan kematian Uria dalam pertempuran, (v. 26)?
  3. Apa makna di balik keputusan Daud mengambil Betsyeba menjadi istrinya (v. 27)?

 Adalah hal biasa bagi raja-raja di Timur Tengah kala itu pada waktu pergantian tahun,yaitu mereka akan berperang melakukan ekspansi ke wilayah-2 demi memperluas wilayah kekuasaannya (2Sam 11:1) Tetapi kali ini Daud justru tidak pergi berperang, ia hanya mempercayakan Yoab untuk memimpin perang, sementara dia hanya beristirahat di rumah. Pada posisi istirahat itulah kemudian akhirnya menggiring dia kepada dosa perzinahan dengan Betsyeba istri Uria. Dosa perzinahan itu berlanjut pada  dosa untuk membunuh Uria suami Betsyeba. Strategi yang dilakukan Daud boleh dibilang cukup brilian, tetapi sayang strateginya justru semakin membuatnya dikendalikan oleh dosa.

            Ketika Uria terbunuh, Daud merasa keinginannya sudah di depan mata. Daud bahkan sama sekali tidak peka terhadap apa yg dirasakan oleh Betsyeba (v. 25 band v. 26) Ratapan Betsyeba karena kehilangan suaminya seolah tidak menyentuh nurani Daud, malah dia menganggap itu adalah hal yang biasa. Ketika dosa menguasai seseorang, maka kepekaan hati nuraninya menjadi buta, gelap, kejam dan tidak mengenal belaskasihan.

            Daud telah menghalalkan segala cara demi keinginannya untuk mengambil Betsyeba menjadi istrinya, sekalipun harus mengorbankan orang lain. Sungguh tidak adil kisah nyata ini, akibat dari sebuah hati Daud yang dibelenggu oleh dosa.

Refleksi:
Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas? Yaitu “Dosa: apapun bentuk, kapasitas dan motivasinya” ia akan membutakan hati nurani kita terhadap perasaan, penderitaan dan rintihan orang lain. Bahkan dosa juga dapat membelenggu kita sehingga kita menjadi terikat dan cenderung melakukan dosa-2 selanjutnya. Sebelum terlambat, putuskan segera ikatan dosa itu dengan kuasa kasih Kristus.

Tekadku:
Tuhan, tolonglah saya untuk berani berkata tidak terhadap dosa sesederhana apapun dosa itu. Mampukan saya untuk menolaknya, sehingga hati nurani saya tetap peka terhadap hak dan milik sesama.  

Tindakanku:
Jika ada hal-hal yg tersimpan di hatiku, yang bisa menjadi benih dosa, saat ini juga aku lepaskan, agar kasih Kristus menjadi dominan dalam hidupku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«