suplemenGKI.com

Yesaya 49:1-7

Keyakinan Akan Panggilan

Perikop ini termasuk bagian kedua (pasal 40-55) dari keseluruhan  kitab Yesaya.  Latar belakang historisnya masih sama dengan bagian pertama, yaitu periode pembuangan Israel ke Babel.  Diperkirakan ada 15-20 ribu orang yang dibuang ke Babel dalam dua gelombang.  Di tengah situasi yang seperti itulah, Yesaya menyampaikan nubuatan dan suara kenabiannya kepada Israel.  Salah satu pesan yang disampaikan  berisi keyakinan akan panggilannya sebagai nabi atau hamba TUHAN, yang seharusnya juga diyakini sebagai panggilan Israel (bdk. dg. Kel. 19:5, 6; Ul. 7:6).

  • Bagaimana Yesaya memahami panggilannya dalam hubungannya dengan Tuhan? (ay.2)
  • Bagaimana pemahaman tersebut berdampak pada pengenalannya akan TUHAN? (ay. 7)
  • Bagaimana pemahaman tersebut berdampak pada tugas kenabiannya? (ay. 5-6)

Renungan

Tidak ada yang kekal di dunia.  Semua yang ada, apapun bentuknya sangat mungkin berubah.  Sebentar ada, lalu lenyap dan diganti dengan yang baru.  Termasuk soal keyakinan dalam diri seseorang, bisa berubah.  Namun secara khusus, perubahan itu sendiri ditentukan oleh seberapa yakin orang tersebut pada kebenaran yang diyakini di tengah pergumulan yang dihadapinya.

Pada umumnya, para ahli sependapat bahwa syair ini berbicara tentang Yesus Kristus. Apakah petunjuknya bahwa itu menunjuk pada Yesus Kristus? Sebutan “hamba Allah” menunjuk pada kedudukan yang rendah, namun mengarah pada tuntutan ilahi yang mutlak. Dia digambarkan sebagai  pribadi yang tanpa cacat  dan sepenuhnya berkenan kepada Tuhan.

Tapi Perikop ini juga dapat dimengerti sebagai penegasan keyakinan akan panggilan dalam diri Yesaya.  Bukan hal yang mudah bagi Yesaya menyampaikan maksud TUHAN di tengah bangsa yang sedang bergumul, bukan hanya persoalan  sosial politik (terbuang) tetapi juga spiritual (TUHAN menghukum dengan cara membuang Israel).  ‘Wajar’ bila kemudian Israel mempertanyakan keadilan TUHAN (bdk. dg. 40:12, 18-20, 25, 26) dan kebenaran Yesaya sebagai utusan bagi mereka.

Itu sebabnya Yesaya menegaskan keyakinannya bahwa TUHAN telah memanggil dan memakai  dia sebagai hambaNya, “TUHAN telah memanggil” (ay. 2).  Keyakinan Yesaya akan panggilannya dipertegas dengan mengatakan, “sejak dari kandungan . . . sejak dari perut ibuku.”  Artinya, Yesaya tidak meletakkan dasar keyakinan  akan panggilannya di atas desakan orangtua, keprihatinan terhadap keadaan bangsanya, aji mumpung, atau faktor-faktor manusiawi lainnya.  Melainkan di atas pengenalan kepada TUHAN yang “Setia . . . Allah Israel” (ay. 7).  Yesaya konsisten dengan keyakinannya akan panggilan TUHAN.  Bahkan Yesaya tidak mundur ketika menghadapi konsekuensi dari panggilan yang ia jalani.

Keyakinan akan panggilan diperlukan dalam pelayanan.  Itu berarti, menjalani panggilan sebagai seorang pelayan (majelis, mahasiswa teologi, majelis dan jemaat) tidak boleh karena alasan organisasi, cita-cita, ekonomi, jabatan dan kekuasaan yang ditawarkan.  Selayaknyalah keyakinan akan panggilan TUHAN menjadi dasar pelayanan.  Sehingga apapun tantangan dan persoalan yang dihadapi,  sebagai pelayan kita dituntut untuk setia dan  tetap memberikan yang terbaik bagi TUHAN.

Keyakinan akan panggilan TUHAN akan menentukan bagaimana seseorang melayani.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«