suplemenGKI.com

Senin, 10 April 2017

09/04/2017

Yeremia 31:1-3

 

Sifat Kasih Allah

Pengantar:
“Sifat” adalah berbicara tentang: Ciri atau karakteristik yang melekat secara permanen atau tetap pada: seseorang, benda, barang atau segala sesuatu. Misalnya: sifat dari air, selalu mengalir pada tempat atau lokasi yang posisinya lebih rendah. Sifat sangat menentukan nilai, fungsi dan dampak terhadap dirinya dan pihak lain. Jika sesuatu memiliki sifat yang baik, maka dampaknya bagi diri dan pihak lain akan baik, demikian sebaliknya jika sesuatu memiliki sifat yang tidak baik, maka dampaknya bagi diri maupun pihak lain akan tidak baik pula. Hari ini kita akan melihat dan belajar tentang salah satu sifat Allah, yaitu kasih.

Pemahaman:

1)      Apa latar belakang pernyataan Allah di ayat 1-2 terkait dengan rencana-Nya bagi Israel?

2)      Bagaimana kasih Allah kepada Israel, dan apa yg menjadi alasan Allah mengasihi Israel?

Latar belakang pernyataan Allah kepada bangsa Israel adalah karena keterpurukan Israel yang sudah amat sangat dalam. Keterpurukan Israel itu digambarkan oleh Allah seperti penyakit yang sangat payah, luka yang tidak tersembuhkan. Dalam keterpurukan,  tidak ada yang bisa menolong mereka, bahkan di tengah Israel yang begitu terpuruk, semua pihak justru melupakan atau meninggalkan mereka. Keterpurukan Israel adalah karena dosa dan kesalahan mereka sendiri. Israel telah berpaling dari Allah dan berpihak kepada illah lain yang justru menggiring mereka pada keterpurukan yang sangat dalam (Yer 30:12-15)

Di tengah-tengah keterpurukan Israel, Allah menyatakan akan menjadi Allah bagi mereka. Pernyataan “Aku akan menjadi Allah segala kaum keluarga Israel dan mereka akan menjadi umat-Ku” menunjukkan bahwa Allah tetap mengasihi Israel dan tidak ingin mereka terus berada dalam keterpurukan, sekalipun itu adalah akibat dosa Israel sendiri. Ungkapan “ia (Israel) mendapat kasih karunia di padang gurun” (v. 2) menunjukkan bahwa sesungguhnya Israel tidak layak mendapatkan kasih Allah, tetapi Allah sendiri yang berinisiatif untuk mengasihi Israel. Itulah sifat kasih Allah, yaitu: 1) Kasih yang bersifat “walaupun” dan bukan “apabila” 2) Kasih Allah bersifat kekal. “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal” menunjukkan bahwa kasih Allah tidak dipengaruhi, dibatasi dan ditentukan oleh siapa umat Israel, tetapi semata-mata karena kemurahan-Nya. Sungguh bersyukur, kita sebagai orang-orang percaya, memiliki Allah yang kasihnya bersifat walaupun dan kekal. Biarlah itu menolong kita untuk terus mempercayai Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.

Refleksi:
Pernahkah saudara berpikir, bahwa sesungguhnya kita tidak layak mendapat kasih Allah? Tetapi mengapa kita justru disebut sebagai anak-anak Allah (Yoh 1:12) itu karena kasih-Nya yang bersifat: walaupun dan kekal”

Tekad:
Tuhan, ajarkan saya meresponi kasih-Mu dengan setia apapun keadaan yang sedang saya alami.

Tindakan:
Berjuang untuk terus mengingat dan mensyukuri kasih Allah yang bersifat: walaupun dan bersifat kekal itu dengan belajar mengasihi orang lain dengan tulus dan iklas.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«