suplemenGKI.com

Kejadian 2:18-24

 

Antara seorang diri dan seorang penolong

 

Manakah yang lebih baik, hidup membujang ataukah menikah? Pertanyaan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk yang lain tapi dengan esensi yang sama. Salah satu ayat yang biasa dijadikan landasan berpikir adalah nas yang akan kita renungkan hari ini.

- Mengapa Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”? apakah ini berarti manusia tidak boleh membujang?

- Bagaimanakah prinsip kesepadanan diterapkan dalam kehidupan orang yang sedang mencari pasangan hidup? Bagaimana pula penerapannya dengan kehidupan orang yang sudah berpasangan?

 

Renungan

Kadang kita dapat mendengar bagaimana kitab Kejadian 2:18 dikutip secara tidak tepat. Entah dengan kesungguhan atau hanya sekadar bercanda, ada orang yang menasihati temannya atau kadang ada juga orang tua yang menasihati anaknya dengan mengutip ayat ini. Baik teman maupun orang tua tersebut mengutip ayat ini untuk mendorong orang yang dinasihatinya agar cepat-cepat menikah. “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja” demikianlah nasihat mereka sambil mengutip Kejadian 2:18.

Seorang penafsir bernama Meredith G. Kline menganjurkan agar pernyataan “Tidak baik” di sini tidak dipisahkan dengan pernyataan “Baik” dan “Sungguh amat baik” dalam pasal sebelumnya. Dengan demikian maka maksud tidak baik dalam ayat ini bukanlah dalam pengertian ketika seseorang membujang, melainkan bahwa hanya bila manusia terdiri dari laki-laki dan perempuanlah maka pekerjaan Allah pada hari keenam itu dapat disebut “amat baik” (bnd. Kej. 1:27 31). Sebab, demikian lanjut Kline, baru jika demikianlah program kebudayaan ketetapan Ilahi itu tumbuh dalam kesempurnaan keturunan (bnd. 1:28a).

Setelah berpendapat bahwa dalam rangka mengemban program kebudayaan tersebut manusia tidak baik bila seorag diri, maka Allah menciptakan penolong yang sepadan. Dalam proses penciptaan tersebut kita dapat melihat adanya dua tahap, yaitu penciptaan penolong dan penolong yang sepadan. Setelah berikhtiar menciptakan penolong, Alkitab mencatat “Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya ….. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.” (Kej. 2:19-22)

Ada nada kesedihan dalam kalimat “… tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia”. Kesepadanan dalam hubungan suami istri adalah suatu hal yang sangat penting. Apabila ada ketidaksepadanan, maka hal itu dapat menimbulkan perasaan sedih karena merasa sendiri. Dalam konteks mencari pasangan, kita perlu memperhatikan dalam hal apa aku sepadan dengan dia. Sedangkan dalam koteks kita sudah berpasangan atau menjadi suami istri, kita perlu terus secara kreatif mengembangkan aspek-aspek kehidupan di mana kita dapat menemukan kesepadanan dengan pasangan kita itu. Sebab dalam kesepadanan itulah akhirnya semua nampak sungguh amat baik.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*