suplemenGKI.com

Senin, 1 Juli 2019

30/06/2019

JANGAN MENDUA HATI

Yesaya 66:1-4

 

PENGANTAR
Bisa dibayangkan apa jadinya bila bekerjasama dengan orang yang mendua hati?  Sudah ada kesepakatan, kenyataannya berbeda cara dan tujuan.  Seolah seirama mencapai angan, ternyata faktanya bertolak belakang.  Demikianlah gambaran “mendua hati” sebagaimana sikap Israel dalam bacaan hari ini.  Lalu, bagaimana sikap Allah?  Mari kita renungkan! 

PEMAHAMAN

  • Bagaimana Allah memperkenalkan siapa diri-Nya dan karya-Nya? (ayat 1, 2 )
  • Apa yang Allah kritik dari sikap Israel? (ayat 3)
  • Bagaimana tanggapan Allah terhadap sikap Israel? (ayat 3c, 4)
  • Dengan cara bagaimanakah anda mendua hati dengan Allah?

Perjalanan relasi Israel dengan Allah penuh dinamika.  Ibarat sepasang kekasih yang mudah putus nyambung.  Berjanji tapi kembali ingkar janji.  Diampuni tapi melanggar lagi.  Diselamatkan tapi memberontak lagi.  Mengapa demikian dan apa sebabnya?  Persoalannya bukan Allah yang tidak mampu memegang janji; atau bukan kasih Allah yang tidak teruji.  Sebaliknya, Israel yang kerap berubah setia.  Bila dalam pasal-pasal sebelumnya dibicarakan tentang sikap Allah terhadap mereka yang menolak diri-Nya (Yesaya 59:1-6).  Bagian ini  membahas sikap Israel yang taat tapi mendua hati kepada Allah, “orang yang menyembelih lembu jantan, namun membunuh manusia juga”.  Israel ketat menjaga ibadah dan tradisi ke-Yahudi-an, namun praktik hidupnya bertolak belakang.  Allah memandang Israel, “mereka lebih menyukai jalan mereka sendiri dan jiwanya menghendaki dewa kejijikan mereka” (ayat 4).  Allah memandang ibadah dan hidup mereka sebagai hal yang “jahat” (ayat 4c).   Bagaimana dengan keadaan umat hari ini?

Tantangan dan pergumulan hari ini juga tidak lebih mudah.   Di satu sisi, kemajuan teknologi memberikan kemudahan dan peluang mengembangkan potensi diri.  Tapi di sisi berikutnya, pemenuhannya menuntut alokasi waktu serta pembiayaan yang tidak murah.  Atas dasar “wajar” dan “kepatutan”, siapapun akan berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan.  Ketika semua potensi diarahkan untuk menjawab kebutuhan hidup, sementara waktu berbatas, maka urusan dengan Allah menjadi terlalu mudah diabaikan.  Umat cenderung mentolerir kesibukan sampai seolah tidak ada waktu bagi Tuhan.  Sibuk dengan beragam kegiatan, termasuk pelayanan.  Tersisa sedikit waktu, menata hati bagi Tuhan.  Yang terjadi kekeringan hati sehingga tidak peka lagi dengan suara Tuhan.  Alhasil, pengambilan keputusan yang semula melibatkan Tuhan, berangsur-angsur berubah ditentukan keadaan diri.  Logika dan pengalaman menjadi panduan.  Tidak ada lagi hati yang terarah pada kehendak-Nya.  Bukankah ini termasuk mendua hati versi masa kini?  Mari kembali pada hati yang bersedia dipimpin dan diarahkan pada kehendak-Nya yang baik bagi hidup kita.

REFLEKSI
Mendua hati terjadi ketika firman dan kehendak-Nya tidak lagi diutamakan, sehingga umat menggunakan logika dan pengalaman menjadi landasan pengambilan keputusan dalam hidup sehari-hari maupun pelayanan. 

TEKADKU
TUHAN terimakasih untuk kebenaran firman-Mu hari ini.  Mampukan saya menjaga hati dengan cara mengutamakan-Mu, bukan logika dan pengalaman yang menjadi landasan pengambilan keputusan dalam hidup sehari-hari maupun pelayanan. 

TINDAKANKU
Hari ini saya mau mengutamakan Dia, memberi waktu bertanya kepada-Nya dan mendengarkan kehendak-Nya.  Melibatkan Dia dalam pengambilan keputusan, bukan logika dan pengalamanku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«