suplemenGKI.com

Amos 5:10-15

 

Pertobatan Menuju Kehidupan

 

            Manipulasi kekuasaan, manipulasi politik, manipulasi keuangan ternyata sudah menjadi gaya hidup manusia berdosa sejak mulanya. Segala bentuk penyelewengan untuk memperkaya, membesarkan diri sendiri dengan memanfaatkan posisi, kekuasaan, jabatan dan sebagainya selalu selalu ada sepanjang masa, dan selalu berdampak buruk  baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Contohnya di Indonesia, hampir semua pejabat mulai dari yang paling tinggi sampai pada yang terendah, mulai dari lembaga yang sekuler sampai pada lembaga yang sehari-harinya berhubungan dengan ahlak, moral atau religi pun praktek manupulasi untuk memperkaya diri sendiri justru dimainkan dengan begitu cantik secantik nama lembaganya. Baru-baru lalu semua media masa menyorot berita tentang korupsi dana untuk pengadaan kitab suci salah satu agama di Indonesia dengan nilai miliaran bahkan mungkin triliunan Rupiah oleh para pemimpin agama di sana. Sebuah lembaga yang seharusnya memberi teladan tentang kejujuran, keadilan, kesucian tetapi justru bersorak-ria mengkorup uang  negara tanpa merasa risih apalagi merasa berdosa. Praktek demikian juga rupanya yang telah terjadi di zaman Amos yang akan kita bahas dalam renungan hari ini.

 

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

  1. Siapa sebenarnya yang disorot oleh Tuhan dalam konteks Amos 5:10-15 ini?
  2. Apa yang mereka lakukan terhadap rakyat untuk memperkaya diri sendiri dan apa pula dampaknya?
  3. Masih adakah kesempatan bagi mereka yang berlaku fasik untuk menuju kehidupan?

 

Renungan:

            Konteks ratapan Amos ini berbicara jelas tentang ketidakadilan, korupsi dan manipulasi/penyelewengan yang dilakukan oleh para pemangku kekuasaan di Israel pada zamannya. Baik pemangku kekuasaan sekuler maupun pemangku kekuasaan religi (lih.5:7) Mereka dengan sesukanya mengubah peraturan, baik peraturan pemerintahan maupun keagaman yang orientasinya untuk memuluskan jalan penyelewengan mereka terhadap pajak, korban-korban persembahan umat dan sebagainya.

            Apa yang mereka lakukan? Mereka menginjak-injak orang yang lemah, mengambil pajak gandun dan tidak mengindahkan teguran, nasihat dari orang benar. Bahkan lebih parah bagi mereka yang memangku jabatan religius, dengan tanpa rasa malu atau takut menerima uang suap dan mengesampingkan orang miskin di pintu gerbang (5:12) Seharusnya keberadaan para pemimpin adalah untuk mensejahterakan orang miskin tetapi sebaliknya malah dikesampingkan demi memperkaya diri sendiri. Konsekuensi dari perbuatan manipulasi mereka adalah kehancuran, sekalipun untuk sementara mereka makmur, kaya-raya atau berpunya tetapi seakan-akan mereka tidak menikmatinya (lih. 5:11)

            Hal yang luar biasa dari berita firman Tuhan ini adalah, bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan bagi orang yang telah berlaku tidak adil, yang memanfaatkan posisinya dan mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan demi kepentingan diri, demi memperkaya dirinya, Tuhan menyerukan agar segera mencari Tuhan, mencari yang baik jangan yang jahat supaya memperoleh hidup atau keselamatan. Itulah yang disebut anugerah/kemurahan Tuhan itu tidak terpengaruh oleh perilaku jahat manusia, anugerah/kemurahan Tuhan masih tetap berlaku bagi orang yang berdosa namun bersedia dengan rendah hati bertobat dari dosa-dosanya dan segera kembali kepada Tuhan. Pintu pemulihan Tuhan selalu terbuka bagi orang yang mau kembali kepada-Nya untuk menuju pada hidup. Tuhan memberkati.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«