suplemenGKI.com

TUHAN MINTA PERTANGGUNGJAWABAN

Yesaya 5:1-7

 

PENGANTAR
Setiap petani pasti merasa sangat kecewa bila tanaman miliknya, yang selama ini ditanam dan dirawat  tidak menghasilkan buah sebagaimana yang diharapkan.  Buah yang harusnya manis, ternyata asam rasanya.  Kehidupan manusia ibarat tanaman yang mestinya juga berbuah manis dan segar.  Apa jadinya bila yang terjadi justru sebaliknya?

PEMAHAMAN
Ayat 5-6          : Hal-hal apa yang akan dilakukan Tuhan selaku pemilik?

Ayat 7             : Kebun anggur dan pemilik, menggambarkan hubungan yang bagaimana?

Apa yang saudara pelajari tentang peran Tuhan sebagai pemilik kebun anggur?

Apa respons saudara seadainya menjadi pemilik anggur yang berbuah masam?

Petani sejati selalu mengerjakan hal-hal terbaik dengan tujuan mendapatkan yang terbaik.  Wajar bila apapun dilakukan demi mencapai hal-hal yang terbaik tersebut.  Gambaran inilah yang dinyanyikan Yesaya tentang Tuhan sebagai pemilik kebun anggur.  Yesaya dengan jelas mempersonifikasi Tuhan sebagai petani sejati.  Dia telah mengolah tanah yang hendak ditanami anggur dengan sangat baik.  Ia bahkan telah membuat pagar sekeliling kebun agar kelak pohon-pohon anggur itu tidak  diganggu  binatang.   Ia juga membuat sebuah pondok bermenara tinggi,  sehingga ia dapat mengawasi seluruh perkebunan.  Hal yang paling penting adalah bahwa pengusaha ini tidak menanam dari benih yang sembarangan, ia telah memilih benih pilihan yang terbaik.  Semua ini dia lakukan dengan harapan kelak dia akan memanen buah anggur manis yang berlimpah-limpah.

Namun sayang, pengusaha yang telah berlelah-lelah sedemikian itu mendapati bahwa kebun anggurnya hanya menghasilkan buah anggur yang asam.  Buah yang tidak layak untuk dinikmati. “Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan; ia mendirikan sebuah menara jaga di tengah-tengahnya dan menggali lobang tempat memeras anggur; lalu dinantinya supaya kebun itu menghasilkan buah anggur yang baik, tetapi yang dihasilkannya ialah buah anggur yang asam” (Yesaya 5:2).     Mungkinkah pemilik kebun anggur tersebut membiarkan saja?  Mungkin saja, tetapi bukan itu pilihan Tuhan.  Nyanyian Yesaya justru menegaskan bahwa Tuhan adalah pribadi yang menuntut pertanggungan jawab atas setiap hal-hal baik yang Ia sudah lakukan dalam kehidupan umat-Nya.  Bukan sebagai bentuk hukuman tetapi lebih kepada didikan agar “kebun anggur” yaitu kehidupan umat-Nya bisa dipulihkan menjadi “kebun anggur” yang menyegarkan, seperti firman-Nya, “Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?(Roma 2:4).   Semua tindakan itu Tuhan lakukan sebagai wujud kasih-Nya yang senantiasa memelihara kehidupan umat-Nya.  Meski untuk sementara waktu ‘menderita’, tapi seiring dengan proses waktu Ia mengerjakan pemulihan.

REFLEKSI
Dalam keheningan mari merenung: Tuhan yang meminta pertanggungjawaban adalah pribadi yang bertanggungjawab atas kebaikan dalam hidup kita.

TEKADKU
Tuhan aku mau mempertanggungjawabkan kehidupan sebagai kebun anggur yang baik bagi Tuhan.

TINDAKANKU
Mulai hari ini: aku mau belajar menghindarkan diri dari hal-hal jahat dan tidak berguna, yang merusak kehidupanku di hadapan-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«