suplemenGKI.com

Mazmur 29

 

Kemuliaan Tuhan Nyata atas Semesta

 

Pengantar
Jalan kehidupan tidak selalu lancar. Di tahun 2013 ini badai kehidupan masih sangat mungkin membuat kita cemas. Namun merenungkan Mazmur 29 secara mendalam akan membuat kita menemukan kekuatan dalam menghadapi semuanya.

 

Pemahaman
Ada berapa kali frasa “suara TUHAN” muncul secara tersurat dalam mazmur 29 ini? Mengapa Pemazmur memakai frasa ini berulang kali?

Kalau kita membaca Mazmur ini dengan seksama, kita dapat menghitung bahwa frasa “suara TUHAN” digunakan sebanyak 7 (tujuh) kali, yakni [1] “Suara TUHAN di atas air” (ay. 3); [2] “suara TUHAN penuh kekuatan” (ay. 4); [3] “suara TUHAN penuh semarak” (ay. 4); [4] “Suara TUHAN mematahkan pohon aras” (ay. 5); [5] “suara TUHAN menyemburkan nyala api” (ay. 7); [6] “suara TUHAN membuat padang gurun gemetar” (ay. 8); dan [7] “Suara TUHAN membuat beranak rusa betina yang mengandung”

Di satu sisi, seringkali angka 7 (tujuh) ini dipahami sebagai angka sempurna. Sedangkan di sisi lain, secara sekilas kita juga dapat melihat bahwa frasa “suara TUHAN” di sini dihubungkan dengan otoritas-Nya atas alam semesta. Apabila kedua hal ini kita hubungkan menjadi satu, maka sebenarnya Mazmur 29 ini memberikan gambaran bahwa otoritas Allah atas alam semesta itu sempurna.

Kesempurnaan otoritas Allah ini akan semakin jelas apabila kita mempelajari lebih mendalam paham manusia jaman dulu tentang kekuatan alam. Mereka percaya bahwa di dalam air, terutama air yang besar semacam samudra, tinggallah makhluk besar yang mengerikan, seperti Lewiatan (Ayub 3:8; Yes. 27:1), ikan besar (Yun. 1:17), serta naga (Ayub 7:12). Demikian pula halnya dengan api. Mereka berpendapat bahwa ada kekuatan yang menghancurkan di dalam api, baik itu gunung berapi, guntur maupun petir, dapat memporak-porandakan kehidupan.

Dalam pengertian di atas, “suara TUHAN” yang berinteraksi dengan alam semesta ini dapat disejajarkan dengan kisah penciptaan, di mana “firman TUHAN” diucapkan, maka jadilah alam semesta ini dengan teratur. Bahkan kekacauan pun diredakan-NYA. Alam semesta yang kosong dan tidak berbentuk itu – atau dalam terjemahan lain disebut kacau balau – ditata ulang oleh Allah dengan menggunakan firman-NYA. Otoritas Allah atas alam ini menggambarkan kemuliaan-NYA, sekaligus kebesaran-NYA.

Refleksi
Merenungkan kedahsyatan otoritas Allah yang sedemikian besar itu seharusnya membuat kita menyadari betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di hadapan Allah, bahkan di hadapan kekuatan alampun kita tidak berdaya. Rasa tak berdaya itu seharusnya tidak membuat kita semakin bersandar dan berserah kepada Tuhan. Itu berarti tidak mengandalkan diri sendiri. Mungkin kita memiliki kecerdasan, pengalaman, dan sebagainya, tapi semua nilai plus yang kita miliki tersebut bukanlah sebuah alasan untuk tidak lagi mengandalkan Kristus.

Tekad
Belajar untuk mengakui kebesaran Tuhan akan segera membuat kita belajar untuk tidak lagi merasa cemas tatkala melihat kehidupan bergelora. Sebab Tuhan pasti sanggup untuk meredakan segala macam gelora kehidupan dengan kedahsyatan otoritas-NYA.

Tindakan
Mari mengambil waktu sejenak untuk berdoa, menyampaikan kepada TUHAN, hal-hal apa yang sedang membuat kita cemas, atau takut.

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«