suplemenGKI.com

Mazmur 106:1-3

 

Kasih Setia Allah yang Sejati (1)

 

Pengantar
Kapan terakhir kali kita mendengar ajakan untuk memuji Allah? Mungkin jawabannya adalah ketika kita beribadah, di mana pemimpin pujiannya mengajak kita menyanyi. Hari ini kita juga akan merenungkan sebuah seruan untuk bersyukur kepada Allah, yang sekaligus mengajarkan tentang betapa luar biasanya Allah itu.

Pemahaman

-  ay. 1               : Mengapa Pemazmur menaikkan pujian bagi Tuhan? Apakah hanya
karena sesuatu yang bersifat sementara, ataukah ada alasan-alasan
lain yang lebih tidak tergoyahkan? Jelaskan pendapat Saudara.

- ay. 2               : Pada dasarnya, dapatkah kita menaikkan pujian bagi Tuhan? Lalu,
bagaimana Saudara memahami ayat ini dalam hubungannya dengan
ayat pertama?

Mazmur 106 ini dibuka dengan sebuah seruan yang kuat untuk memuji Tuhan. Alasan seruan ini terdapat dalam kalimat berikutnya: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.”Pernyataan ini menegaskan beberapa hal. Pertama, kasih setia Tuhan bersifat konkrit. Artinya, kasih setia Tuhan bukan sekadar janji, melainkan sudah terbukti. Pemazmur telah mengalami secara pribadi kasih setia Tuhan itu. Karena itulah Pemazmur menyerukan: “Bersyukurlah kepada TUHAN!” Kedua, kasih setia Tuhan itu bersifat selama-lamanya. Kasih setia Tuhan yang konkrit itu bukan hanya dirasakan oleh Pemazmur dan generasinya, akan tetapi juga telah dinikmati generasi yang sebelumnya. Dalam ayat-ayat berikutnya Pemazmur memaparkan bagaimana kasih setia Tuhan itu dinyatakan kepada nenek moyangnya. Ketiga, kasih setia Tuhan tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Hal ini menegaskan bahwa landasan Pemazmur dalam menaikkan pujian kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang bersifat temporer, melainkan berdasarkan hal yang tidak tergoyahkan, yaitu kasih setia Tuhan yang tidak berubah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.

Seakan bertolak belakang dengan seruan tersebut, Pemazmur bertanya, “Siapakah yang dapat memberitahukan keperkasaan TUHAN, memperdengarkan segala pujian kepada-Nya?” Tapi sebenarnya ini bukanlah penyangkalan atas ajakan yang diserukan Pemazmur sebelumnya. Sebaliknya, pertanyaan retoris ini menegaskan betapa luar biasanya Allah itu sampai-sampai kita tidak mampu untuk mengumandangkannya meskipun dengan segala kekuatan kita. Sebagai analoginya, kita dapat mengingat syair dari NKB 17 ayat 3, “Andaikan laut tintanya dan langit jadi kertasnya, andaikan ranting kalamnya dan insan pun pujangganya, takkan genap mengungkapkan hal kasih mulia, dan langit pun takkan lengkap memuat kisahnya”. Karena itu seharusnya kita mengagungkan Tuhan dengan kesungguhan hati

Refleksi
Menyadari kasih setia Allah sedemikian luar biasa itu, sudahkah kita menaikkan syukur kepada-Nya dengan segenap keberadaan kita?

Tekad
Doa: Tuhan, tolonglah saya agar dapat mengucap syukur selama-lamanya. Amin.

Tindakan
Meneladani Pemazmur, mari bertanya kepada orang tua kita tentang kasih setia Allah dalam hidup mereka, serta menaikkan syukur atas kasih setia Tuhan itu.

 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«