suplemenGKI.com

Yesaya 35:5-10

Berilah Diri Ditahirkan Allah Dan Nikmati Sukacita Abadi

Edith Schaeffer, seorang ibu yang ditinggalkan suaminya karena meninggal dalam kecelakaan, pada sebuah tulisannya ia menceritakan pengalaman perjalananya selama musim semi di Eropa. Ia melakukan perjalanan itu adalah dalam rangka berlibur untuk menenangkan diri dan menemukan penghiburan setelah ia merasa sangat kehilangan. Di Eropa, Edith berkesempatan untuk menempati sebuah rumah kebun yang terletak di pinggir kota. Awalnya ia berpikir akan sangat kesepian dan banyak kesulitan. Karena lokasi yang jauh dari kota tanpa suami. Tetapi ternyata lokasi itu memberi ia sejuta keindahan dan kenyamanan yang mungkin selama ini tidak pernah ia alami. Khususnya ketika ia melihat  indahnya dedaunan hijau yang mulai muncul dari setiap ranting pohon, bunga-bunga yang mulai merekah dengan aneka warna-warninya demikian juga dengan kehidupan alam ria yang menghiasai hari-harinya selama berada di tempat itu. Edith mulai berpikir bahwa begitu baiknya Tuhan dan begitu sempurnanya kasih Tuhan yang telah menyelamatkannya, bahkan ketika ia merasa kehilangan, Tuhan selalu hadir untuk mengusir keputusasaan dan menggantikannya dengan sukacita.

Pertanyaan-pertanyaan penuntun:

1.      Pernahkan saudara membayangkan bagaimana sulitnya sebuah kehidupan yang tidak sempurna dengan keadaan buta, tuli, bisu dan lumpuh? Lalu bagaimana dengan keadaan jiwa yang buta, tuli, bisu dan lumpuh?

2.      Apa yang ingin ditunjukkan oleh penulis Yesaya dalam ayat 8-10?

Renungan:

Barangkali kita belum pernah melihat ada orang yang mengalami ketidaksempurnaan secara pisik yang sangat komplit seperti gambaran dalam ayat. 5-6a, yaitu buta, tuli, bisu dan lumpuh. Mungkin kita tidak bisa membayangkan betapa sulitnya dan menderitanya keadaan demikian, karena sesungguhnya kita tidak pernah mengalaminya. Tetapi bagaimana dengan orang yang benar-benar mengalaminya? Saya berpikir, mungkin tidak ada orang yang bisa bertahan hidup lama dengan keadaan yang demikian.

Fakta yang riil, bahwa sering keadaan pisik seseorang itu dikaitkan dengan keberdosaannya sehingga ia mengalami seperti itu. Tetapi saya tidak berpikir demikian, karena keberdosaan manusia justru jauh lebih menderita dari keadaan yang sebenarnya. Sebenarnya bagian ini lebih menunjukkan kepada keadaan keberdosaan manusia, bukan keadaan cacat pisik. Betapa menderitanya manusia yang dibelenggu oleh dosa, sehingga digambarkan seperti orang cacat pisik yang komplit (buta, tuli, bisu dan lumpuh)

Tetapi ayat 8-10, memaparkan ada jalan pembebasan dari Allah atau pentahiran bagi orang yang menderita karena dosa yang memberi diri kepada Allah. Sebuah perubahan dari jalan yang sulit kepada jalan yang nyaman, menunjukkan betapa hanya ada satu jalan untuk keselamatan dari dosa. Yesaya menggambarkan bahwa orang-orang yang ditahirkan dari dosa akan pulang masuk ke Gunung Sion, sebuah lambang yang penuh dengan sukacita dan damai sejahtera Allah. Tetapi bagi mereka yang tidak memberi diri ditahirkan, jangankan masuk melintas saja tidak diperkenankan. Jadi bagi kita semua orang menyandari diri berdosa, berilah dirimu ditahirkan (diselamatkan) Tuhan telah menyiapkan jalan bagi kita menuju ke Bukit Sion yang penuh sukacita abadi yaitu di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«