suplemenGKI.com

Selasa, 7 April 2020

06/04/2020

SALIB KRISTUS: KUATKU & KEBANGGAANKU

1 Korintus 1:18-31

 

Pengantar
Ada seorang anak berusia 11 tahun yang berjuang untuk mempertahankan imannya di lingkungan sekolah. Anak itu sering dihina oleh beberapa teman yang berasal dari kalangan orang berada. Suatu kali, anak itu diajak berdiskusi tentang pentingnya salib bagi orang Kristen. Anak itu pun memberikan jawaban sesuai pengetahuan yang didapatkannya melalui ibadah di gereja. Memang tidak mudah, Tetapi anak itu tidak pantang menyerah, meskipun beberapa temannya itu berusaha menjatuhkan imannya kepada Yesus. Saudara, apa yang dialami oleh anak itu mengingatkan kepada kita bahwa “salib” adalah bagian penting dari perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen. Hari ini kita akan merenungkan betapa berharganya ‘salib’ itu, melalui teguran yang diberikan oleh Rasul Paulus pada orang Yahudi dan Yunani di Korintus.

Pemahaman

  • Ayat 22-23    : Bagaimanakah pandangan orang Yahudi dan orang Yunani tentang salib?
  • Ayat 18          : Bagaimanakah Paulus memberikan pernyataan tentang ‘salib’ pada kedua golongan itu?
  • Ayat 27-31    : Apa nasehat yang diberikan oleh Paulus pada jemaat di Korintus yang telah menerima anugerah keselamatan dari Kristus?

Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat di Korintus manakala kondisi jemaat sedang mengalami perpecahan. Perpecahan itu salah satunya terjadi akibat adanya suatu pandangan yang mengatakan bahwa pemberitaan tentang salib Kristus adalah sebuah kebodohan (ayat 22-23). Pandangan itu berasal dari dua golongan yang sangat berpengaruh pada masa itu, yakni golongan orang Yahudi dan orang Yunani. Orang Yunani dikenal sebagai orang-orang yang cerdas dan logis. Mereka beranggapan bahwa orang yang pantas untuk mendapatkan hukuman salib adalah budak ataupun penjahat. Sehingga ketika seseorang percaya pada Yesus yang disalib, maka sama halnya ia percaya dengan seorang budak. Sedangkan orang Yahudi memiliki pandangan bahwa Mesias adalah seorang Raja, yang bukan mati di kayu salib. Rasul Paulus tidak menginginkan pemberitaan miring tentang salib ini terus menerus terjadi. Pemberitaan tentang salib dari kedua golongan itu berdasarkan hikmat manusia semata.

Oleh karena itu, ia menegaskan pemahaman yang berbeda dari pola pikir mereka. Rasul Paulus ingin bersaksi kepada jemaat di Korintus bahwa apa yang dipandang oleh dunia sebagai kebodohan, justru dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri. Jika kedua golongan itu menganggap bahwa ‘salib’ adalah sebuah kebodohan, maka bagi orang percaya ‘salib’ adalah kekuatan Allah (ayat 18). Hal ini berarti bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus, maka ia diperdamaikan dengan Kristus, memiliki pengenalan akan Allah lebih mendalam, dan diterangi hidupnya oleh Roh Allah. Maka ketika seseorang telah percaya dan menerima Kristus melalui pemberitaan salib, Paulus menasehatkan agar tidak hidup bermegah atas hikmat yang ada dalam dirinya, melainkan bermegah atas anugerah Allah dalam hidupnya (ayat 28-31).

Refleksi
Apakah kepercayaan saudara tentang “salib Kristus” saat ini sedang mengalami goncangan karena persoalan-persoalan yang terjadi? Ketika saudara mengalaminya, manakah sikap yang saudara ambil: tetap setia hidup dalam anugerah-Nya ataukah berpaling dari Tuhan?

Tekadku
Tuhan, ajarku untuk tetap teguh pada imanku dalam berbagai situasi kehidupan. Mampukanku untuk tetap menghidupi panggilan sebagai umat-Mu yang telah menerima anugerah dari-Mu.

Tindakanku
Hari ini aku akan belajar untuk tetap setia hidup dalam anugerah Allah dengan cara tetap memelihara persekutuan pribadi dengan-Nya, agar imanku tetap kuat menghadapi berbagai situasi dan kondisi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»