suplemenGKI.com

Selasa, 7 April 2015

06/04/2015

Kisah Para Rasul 4:32, 34-35

MATEMATIKA KASIH

 

PENGANTAR
Hasil perhitungan matematika 2-1-1 pasti berbeda dengan 2-1+1?  Yang pertama menghasilkan angka nol, sementara yang kedua nilainya tetap/kembali, yaitu 2.  Pola hitungan kedua itulah yang seolah menjadi gambaran kehidupan jemaat perdana, membagi namun tidak pernah kekurangan.  Mari kita belajar dari perikop/bacaan hari ini.

PEMAHAMAN
Ayat 32: Apa prinsip kepemilikan yang ditekankan di bagian ini?
Ayat 34: Bagaimana kondisi jemaat digambarkan di bagian ini?
Ayat 35: Bagaimana para rasul mengatur soal pemberian?

Mungkinkah pola yang sama diterapkan dalam kehidupan jemaat sekarang?

Syarat-syarat apa yang dibutuhkan sehingga prosesnya bisa berlangsung dengan baik?

Bagaimana mungkin membagi tapi tidak kekurangan?  Bukankah ketika dibagi pasti menjadi kurang dan kemudian habis?  Bisa saja logikanya seperti itu.  Namun kebenaran matematis tidak selalu berlaku demikian.  Saya menyebutnya dengan matematika kasih.  Artinya, angka nol atau keadaan kurang tidak akan terjadi bila pada keadaan kurang tersebut ditambahkan kasih, yaitu berupa kerelaan dan kesediaan saling memberi dari yang lainnya.  Dalam istilah sekarang subsidi silang, sehingga tidak ada seorangpun yang kekurangan hanya karena memberi, seperti tertulis, “sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (ayat 34).   Mereka beriman bahwa Tuhan adalah Sang Pemilik kehidupan dan menyakini bahwa semua adalah milik Tuhan, yang diciptakan untuk kebaikan dan kesejahteraan.  Bukan milik pribadi manusia yang dikuasai kerakusan.

Matematika kasih tidak terjadi otomatis.  Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi.  Pertama, setiap pribadi yang terlibat harus sudah mengalami kuasa kebangkitan Yesus sebagaimana yang diberitakan para rasul.  Kedua, hidup di dalam kesadaran akan “kasih karunia” yang melimpah (ayat 33).  Ketiga, berkomitmen mewujudkan pengalaman kasih Tuhan di dalam kehidupan berjemaat.  Keempat, pentingnya sikap jujur dan saling percaya, baik menyangkut kebutuhan diri maupun kesediaan berbagi (ayat 34-35).  Artinya, ketika setiap jemaat berorientasi pada terpenuhinya kebutuhan orang lain, maka akan selalu ada kecukupan bagi semua.  Keempat  syarat inilah yang menjamin matematika kasih tetap berjalan sebagai suatu sistim yang menjaga keseimbangan kehidupan sosial.

Kehidupan dan tuntutan kebutuhan hari ini bisa jadi tidak berbeda jauh dengan yang dihadapi oleh jemaat perdana.  Ada yang lebih dan yang kurang.  Mungkinkah matematika kasih menjadi sistim yang menjaga keseimbangan sosial?  Atau masih relevankah matematika kasih kita praktikkan di tengah jaman yang makin individualis ini?  Kalau masih relevan, hal-hal apa yang sekiranya berpotensi menjadi faktor pendorong atau penghalang mewujudkan kehidupan yang saling berbagi?  Mari kita wujudkan bersama kehidupan yang penuh kasih dan berbagi.

 

REFLEKSI
Mari merenungkan: Seseorang tidak akan kekurangan hanya karena dia memberi di dalam kasih kepada sesamanya.


TEKADKU

Tuhan tolonglah aku untuk membangun kasih yang mendorongku untuk berbagi bagi sesama.

TINDAKANKU
Hari ini aku mau mewujudkan kasih dan imanku melalui sikap hidup yang rela berbagi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*