suplemenGKI.com

Kejadian 50:15-21

Hakekat Memohon Ampun 

Dosa terjadi di mana-mana. Bahkan setiap kita melakukan dosa. Tapi tidak setiap kita menyadari betapa seriusnya akibat dosa yang kita perbuat. Dalam perenungan hari ini kita melihat bagaimana hal itu menjadi nyata justru pada saat orang berdosa, yaitu saudara-saudara Yusuf, mohon ampun atas dosa-dosa mereka di masa lalu.

- Dalam ayat 15 – 18, jelas tergambar perasaan takut sedang menghinggapi saudara-saudara Yusuf. Apakah yang sedang ditakutkan saudara-saudara Yusuf itu?

- Manakah yang membuat kita merasa takut pada waktu berbuat dosa, penolakan atau penghukuman?

- Pernahkah Saudara dihantui perasaan takut terhadap akibat dosa yang pernah Saudara lakukan di masa lalu? Kemudian, apakah yang Saudara lakukan untuk mengatasi rasa takut tersebut? 

Renungan

Sejak semula, dosa selalu menimbulkan rasa takut pada diri pelakunya. Adam dan Hawa bersembunyi karena perasaan takut yang melanda mereka setelah melanggar larangan Tuhan itu. Kini, perasaan takut itu juga melanda jiwa saudara-saudara Yusuf karena mereka telah melakukan dosa di masa lalu. Mereka takut Yusuf menyimpan dendam dan karenanya kemudian membalaskan sepenuhnya segala kejahatan yang telah mereka lakukan kepada Yusuf (ay. 15).

Kalau kita cermati dengan lebih seksama, sebenarnya rasa takut itu bukan hanya menyelimuti saudara-saudara Yusuf setelah kematian ayah mereka, melainkan sejak mereka menyadari bahwa Yusuf masih hidup. Pada waktu Yusuf memperkenalkan diri kepada mereka, saudara-saudara Yusuf itu tidak dapat berkata apa-apa karena mereka takut dan gemetar menghadapi Yusuf (Kej. 45:3). Sejak saat itu sebenarnya saudara-saudara Yusuf hidup dalam ketakutan. Tapi selama Yakub hidup, mereka merasa ada sosok yang dapat dijadikan tempat bersembunyi. Kini, tempat persembunyian itu telah tiada. Maka rasa takut tersebut mulai membesar. Rasa takut inilah yang mendorong mereka untuk memohon pengampunan serta menyediakan diri menjadi budak Yusuf (ay. 18). Tentu adalah suatu hal yang hina untuk menjadi budak, apalagi budak adik mereka sendiri. Akan tetapi nampaknya ini masih menjadi pilihan yang lebih baik daripada hidup tersiksa, seperti mereka menyiksa Yusuf dahulu kala, atau bahkan mati sehingga istri dan anak-anak mereka terlantar. Situasi yang mirip juga terjadi dalam kisah Anak yang Hilang (Luk. 15:11-32). Si Bungsu rela hidup menjadi budak ayahnya sendiri asalkan bisa tetap hidup. Dosa selalu membuat hidup manusia terpuruk. Akibat dosa selalu mengerikan. Tetapi yang lebih mengerikan adalah ketika manusia tidak mau dan tidak mampu melihat akibat yang mengerikan itu sehingga terus berbuat dosa.

Pada umumnya manusia melihat dosa dalam hubungannya dengan akibat yang ditimbulkan. Padahal kengerian dosa justru terletak pada keterpisahan atau putusnya hubungan. Saudara-saudara Yusuf hanya mempedulikan bagaimana caranya untuk meminimalisir akibat dari dosa itu, tanpa memikirkan relasi yang ada. Mereka tidak peduli dengan relasi. Sekalipun relasinya buruk, dalam pola tuan – hamba, tidak apa-apa asalkan mereka dan keluarga tetap hidup. Bagaimana dengan kita? Apa yang sebenarnya kita mohon pada waktu meminta ampun? Apakah keringanan – kalau bisa penghapusan – penghukuman, ataukah pemulihan hubungan? 

=====================================================================================

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*