suplemenGKI.com

Mazmur 29:1-10

MENGENAL YANG AGUNG

 

Pengantar
Bagaimana seseorang bisa mengasihi dengan benar, bila dia tidak mengenal siapa yang dikasihi?  Bagaimana seseorang bisa mengenal dengan baik, bila dia tidak dekat dengan siapapun? Demikian juga relasi manusia dengan Allah!  Meskipun manusia tidak bisa mengenal secara sempurna, namun dasar dari mengasihi Allah adalah adanya hati yang rindu mengenalNya.  Sudahkah anda mengenal Yang Agung itu?

Pemahaman

  • Ayat 1, 2  :  siapakah pribadi yang layak dimuliakan dan menerima sujud manusia?
  • Ayat 2b    :  dengan bagaimanakah seharusnya manusia datang kepada Allah?
  • Ayat 3-9   :  bagaimana kuasa dan kedaulatan Allah digambarkan?
  • Ayat 10    :  Allah digambarkan sebagai apa ?
  • Bagaimana pengenalan kita akan DIA?

Bagi sementara orang,  frasa “siapakah dan dimanakah Allah itu?” merupakan pertanyaan yang seolah menjadi syarat percaya ada tidaknya Allah.  Sementara bagi yang lain, memandangnya sebagai pernyataan yang patut direnungkan, yaitu  betapa tidak terselaminya kedirian Allah itu.  Apa yang manusia tahu tentang Allah adalah sebatas yang Allah ijinkan untuk tahu. Jadi tepatlah bila pemazmur memahami Allah sebagai pribadi yang tidak jauh dari kehidupan manusia.  Bukan berarti pemazmur jauh lebih mengenal Allah dibanding yang lain.  Sebaliknya, pemazmur ingin mengajarkan bahwa Allah hadir di dalam keseharian manusia.  Dia begitu dekat dengan kehidupan manusia.  Pemazmur menggunakan kata “suara” beberapa kali (3-5, 6-9) sembari menunjuk fenomena alam seperti, “mengguntur . . . mematahkan pohon aras . . . menyemburkan nyala api . . . membuat padang gurun gemetar” sebagai representasi Tuhan yang ada dan berdaulat penuh atas alam dan kehidupan.

Kebenaran ini menjawab keingintahuan manusia tentang Allah, seperti yang tertulis, “sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keillahianNya dapat nampak kepada pikiran dan karyaNya  sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Roma 1:20).  Tuhan ada dan menyatakan kehadiranNya melalui fenomena alam.  Allah adalah pribadi yang tidak terbatas dan tidak mungkin dibatasi.  Dia bisa menggunakan banyak cara untuk mengenalkan siapa diriNya (Ibr. 1:1, 2).  Artinya, selalu ada banyak cara dan alasan bagi manusia untuk sampai pada pemahaman yang Allah mau tentang diriNya, Yang Maha Agung.  Dari sisi manusia, kesediaan menerima kebenaran ini menjadi dasar pengenalan dan kasihnya kepada Allah yang tidak terbatas itu.

Refleksi:
Mari merenungkan bahwa Allah ada melalui karya dan kuasaNya atas alam semesta termasuk diri kita.  Sudahkah kita selalu mengenal dan merasakan Dia ada sehingga kitapun berusaha mengasihi-Nya?

Tekadku
Aku mau mengenal dan mengasihi Yang Maha Agung.

Tindakanku
Mengasihi Allah seiring dengan pengenalanku bahwa Dia selalu ada.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«