suplemenGKI.com

Amos 5:4-7

 

“Jalan Menuju Hidup”

Pengantar:
Ada orang mengklasifikasikan bahwa sedikitnya ada tiga model orang Kristen, (1) Kristen terdaftar, menjadi Kristen sebagai syarat warga negara yang baik adalah memiliki agama. Pilih agama Kristen karena tidak banyak aturan, bahkan ada yang berpendapat ke gereja atau tidak bukan keharusan yang penting terdaftar menjadi anggota gereja. (2) Kristen formalitas, tampak rajin ke gereja, memberi persembahan, terlibat pelayanan tetapi sekadar menjalani apa yang ditugaskan padanya tanpa ada rasa kedekatan dengan Tuhan. Maka walaupun kelihatan beribadah tetapi imannya tidak bertumbuh. (3) Kristen yang benar, ke gereja, memberikan persembahan dan melayani dihayati sebagai ungkapan syukur atas keselamatan dari Tuhan.

Pemahaman:

  1. Apa yang hendak diingatkan kepada bangsa Israel dan kekristenan hari ini dalam ayat 4-6?
  2. Apa yang dilakukan oleh bangsa Israel sehingga Tuhan mengecam mereka? (v. 7)

Kehidupan keagamaan bangsa Israel sangat kental dengan ritual-ritual persembahan korban di tempat-tempat penyembahan. Bahkan dalam kalender keagamaan Israel ibadah persembahan korban di tempat-tempat tertentu sudah terjadwal sesuai dengan jenis persembahannya. Dan itu memang merupakan wujud nyata bahwa umat Israel sangat menjaga dan memelihara hidup beribadah kepada Tuhan sebagai bentuk kasihnya pada Tuhan yang telah membebaskan mereka dari Mesir, telah memberkati dan memelihara mereka. Namun seiring berjalannya waktu persembahan korban di tempat-tempat suci rupanya telah bergeser, bukan lagi sebagai wujud kasih dan syukur pada Tuhan tapi hanya sekadar kebiasaan dan rutinitas belaka. Itu sebabnya Tuhan mengingatkan mereka supaya mencari Tuhan dan jangan hanya sekadar ibadah persembahkan korban tetapi hati mereka tidak sungguh-sungguh mencari dan menyembah Tuhan. Aktivitas ibadah mereka hanya untuk mengelabui Tuhan. Itu sebabnya di ayat 7 Tuhan mengecam perbuatan dan kehidupan sehari-hari umat Israel, mereka tidak lagi sebagai umat yang takut kepada Tuhan, tetapi justru melakukan kecurangan, korupsi, menindas, memeras orang miskin, berlaku tidak adil pada sesama. Hal itu terjadi karena mereka beribadah bukan mencari Tuhan tetapi sekadar kebiasaan dan rutinitas yang membuat mereka jauh dari kebenaran.

Refleksi:
Saudara-saudara, mungkin kita juga terkadang beribadah kepada Tuhan itu hanya sekedar formalitas-rutinitas belaka. Mari kita beribadah karena kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.

Tekadku:
Tuhan, ampuni kami kalau seringkali kami beribadah hanya sekadar formalitas dan rutinitas belaka. Tuntunlah kami agar kami sungguh-sungguh mengasihi Tuhan melalui ibadah kami.

Tindakanku:
Mari saudara-saudara, kita mau sungguh-sungguh menunjukkan kasih dan setia kita kepada Tuhan melalui ibadah kita, bukan sekadar rutinitas atau kebiasaan belaka.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«